PALANGKA RAYA — Kepulan asap berwarna kuning pekat nyaris menutup ruas Jalan Mahir Mahar di kawasan Lingkar Luar, Palangka Raya. Warga yang melintas mengaku jarak pandang terganggu akibat kabut yang menempel di permukaan jalan.
Api di lapisan gambut kembali menyala dan membesar saat angin bertiup kencang. Menurut warga, api sempat dipadamkan, tetapi beberapa hari kemudian muncul lagi dan kebakaran pun meluas.
Mengapa Api di Lahan Gambut Sulit Padam
Gambut menyimpan bahan bakar di bawah permukaan tanah, sehingga api bisa bertahan lama meski bagian atas sudah disiram. Kondisi itu membuat kebakaran di sekitar Jalan Mahir Mahar berulang meski warga sempat melakukan pemadaman mandiri.
Angin kencang mempercepat penyebaran api ke area yang belum terbakar. Asap yang dihasilkan pun lebih tebal dibanding kebakaran lahan biasa.
Kabut Asap Merambah ke Maros, Jarak Pandang di Bandara Berkurang
Kabut asap akibat karhutla dari sejumlah wilayah Tanah Air semakin meluas hingga ke Maros, Sulawesi Selatan. Beberapa hari terakhir, kabut asap merambah kawasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
Kondisi itu terlihat di runway 21 bandara tersebut dan telah berlangsung beberapa hari terakhir. Jarak pandang di sekitar bandara berkurang hingga sekitar lima kilometer, tetapi operasional penerbangan masih berjalan normal.
Pemerintah Belum Tetapkan Status Bencana Nasional
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Dudung Abdurachman, menyebut belum ada rencana menetapkan kebakaran hutan dan lahan sebagai bencana nasional. Pemerintah memastikan masih mampu menangani karhutla.
Pernyataan itu disampaikan di tengah tawaran bantuan Malaysia dan Singapura untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan. Hingga kini, belum ada keterangan resmi soal tindak lanjut tawaran tersebut.
Di Palangka Raya, warga berharap pemadaman di titik gambut segera dilakukan agar asap tidak terus menutup akses jalan. Kebakaran di lahan gambut disebut sulit dipadamkan tanpa penanganan hingga ke lapisan bawah tanah.