SAMPIT — Tiga pelajar asal Kecamatan Mentaya Hulu saat ini tercatat sebagai siswa di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Kotawaringin Timur. Mereka berasal dari tiga desa berbeda: satu siswa SD dari Desa Baampah, satu siswa SMA dari Desa Tanjung Batur, dan satu siswa lagi dari Desa Tanjung Jariangau.
“Kalau dari Kecamatan Mentaya Hulu ada tiga orang. SD satu dari Baampah, kemudian SMA satu dari Tanjung Batur dan satu lagi dari Tanjung Jariangau,” ujar Camat Edison kepada TintaBorneo.com, belum lama ini.
Jumlah Peserta Masih Jauh dari Potensi yang Ada
Edison mengakui angka tersebut masih sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah anak usia sekolah yang memenuhi kriteria di wilayahnya. Ia mengungkapkan, pihaknya sudah berupaya merayu dan mengajak warga, namun sebagian orang tua masih menunggu bukti nyata dari program tersebut.
“Permasalahannya lebih kepada orang tuanya yang belum siap. Sebenarnya anak-anak yang bisa masuk itu banyak. Kemarin juga sudah kami rayu dan ajak, tetapi karena program ini masih baru, mungkin masyarakat masih ingin melihat dulu,” katanya.
Dua Calon Peserta dari Kuala Kuayan Batal karena Orang Tua Belum Setuju
Edison mencontohkan, sempat ada dua calon peserta dari Desa Kuala Kuayan yang diusulkan mengikuti program. Rencana itu urung terlaksana setelah orang tua kedua anak tersebut belum memberikan persetujuan.
Satu dari tiga siswa yang kini bersekolah di Sekolah Rakyat merupakan peserta lama yang sebelumnya mengikuti pendidikan saat lembaga itu masih menempati kompleks Islamic Center. Sementara itu, satu siswa lainnya adalah peserta baru di jenjang SMP yang baru dibuka pada tahun ajaran ini.
Fasilitas Lengkap dan Biaya Gratis Jadi Daya Tarik Utama
Edison optimistis kepercayaan masyarakat akan tumbuh setelah para siswa yang sudah bersekolah pulang dan menceritakan pengalaman mereka. Ia menyebut fasilitas di Sekolah Rakyat sangat baik dan seluruh kebutuhan pendidikan ditanggung negara.
“Kalau nanti anak-anak yang sudah bersekolah di sini pulang dan menceritakan pengalaman mereka, saya yakin informasi itu akan menyebar ke masyarakat. Apalagi fasilitasnya sangat baik dan seluruh kebutuhan pendidikan ditanggung. Itu tentu akan menjadi daya tarik bagi masyarakat,” ucapnya.
Bukan Sekadar untuk Keluarga Miskin, Kemauan Anak Jadi Kunci
Camat Mentaya Hulu menegaskan, peserta Sekolah Rakyat tidak dipilih semata-mata karena berasal dari keluarga kurang mampu. Menurutnya, yang lebih utama adalah adanya kemauan dan semangat anak untuk melanjutkan pendidikan.
Ke depan, Pemerintah Kecamatan Mentaya Hulu akan terus melakukan sosialisasi hingga tingkat desa. Edison yakin, seiring bertambahnya informasi dan testimoni dari siswa yang telah merasakan manfaat program, jumlah peserta dari wilayahnya akan meningkat pada tahun-tahun berikutnya.
“Sosialisasi pasti terus kami lakukan. Nanti anak-anak yang sudah sekolah di sini juga bisa menjadi contoh dan menyampaikan pengalamannya kepada masyarakat. Saya yakin ke depan akan semakin banyak yang berminat masuk Sekolah Rakyat,” pungkas Edison.