Orang Utan Betina Terjebak Karhutla di Kotim Dievakuasi Malam Hari, Kondisi Sehat tapi Kurang Asupan

Penulis: Mahfud Ridwan  •  Kamis, 15 Oktober 2026 | 12:48:31 WIB
Tim BKSDA Kalteng bersama mitra mengevakuasi orang utan betina dari kawasan bekas karhutla di Kotawaringin Timur.

SAMPIT — Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah mengevakuasi satu individu orang utan betina dari kawasan bekas karhutla di Kotawaringin Timur. Evakuasi melibatkan BKSDA Pos Sampit, Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Pangkalan Bun, Yayasan Orangutan Foundation International (OFI), dan Komunitas Animal Rescue Sampit. Satwa itu ditemukan terjebak di area terbakar di Gang Sahabat, Jalan Tjilik Riwut Kilometer 9, arah Sampit-Palangka Raya.

Keberadaan orang utan tersebut pertama kali dilaporkan warga sekitar pukul 10.00 WIB saat beraktivitas di kebun. Petugas BKSDA Pos Sampit langsung menuju lokasi untuk memantau, lalu berkoordinasi dengan Tim SKW II Pangkalan Bun guna menyusun upaya penyelamatan.

Evakuasi Malam Hari Lewat Jalan Terbakar

Komandan BKSDA Pos Sampit Muriansyah menyatakan penyelamatan dilakukan pada Rabu, 14 Oktober 2026, bersama mitra konservasi. "Rabu, 14 Oktober 2026, kami BKSDA Kalteng dengan dibantu kawan-kawan dari Yayasan OFI dan Komunitas Animal Rescue Sampit melakukan penyelamatan satu individu orang utan," kata Muriansyah di Sampit, Kamis (15/10/2026).

Kondisi medan menyulitkan pergerakan tim. Sebagian besar jalan menuju titik evakuasi telah terbakar, sementara lahan gambut dan sisa pepohonan setengah terbakar menghambat akses. Tim SKW II Pangkalan Bun bersama OFI baru tiba sekitar pukul 18.30 WIB dan harus menggunakan kendaraan roda dua sebelum melanjutkan dengan berjalan kaki.

Proses evakuasi hingga pemeriksaan kesehatan berlangsung pukul 19.00 WIB sampai 20.00 WIB. Petugas hanya mengandalkan senter portabel karena evakuasi dilakukan malam hari dengan penerangan terbatas.

Tak Ditemukan Sarang, Diduga Sedang Mencari Makan

Tim tidak menemukan sarang orang utan di sekitar lokasi. Muriansyah menduga satwa tersebut sedang melintas untuk mencari makan sebelum keberadaannya diketahui warga dan membuatnya naik ke pohon. "Seperti yang sebelumnya, orang utan saat terdesak kebakaran akan berpindah ke tempat yang lebih baik," ujarnya.

Dugaan itu diperkuat kondisi lapangan yang minim sumber pakan. Orang utan yang terdesak kebakaran umumnya berpindah ke area yang dinilai lebih aman, meski harus melintasi kawasan yang sudah terbakar.

Berat 28 Kilogram Dinilai Ideal, Pemeriksaan Darah Menyusul

Dokter hewan Ichlasul Khaerul menerangkan kondisi umum orang utan tersebut sehat dan tidak ditemukan tanda kekerasan. "Setelah melakukan pemeriksaan fisik, kami tidak menemukan adanya patah tulang, luka, ataupun peluru di tubuh orang utan tersebut," terang Ichlasul.

Pemeriksaan awal juga tidak menunjukkan gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Berdasarkan pemeriksaan stetoskop, suara paru-paru orang utan masih tergolong baik, dan aktivitasnya sebelum pembiusan menunjukkan satwa itu masih bergerak aktif.

Meski demikian, Ichlasul menduga orang utan tersebut mengalami kekurangan asupan makanan jika melihat kondisi lapangan yang minim sumber pakan dan lingkar perutnya. Berat badan 28 kilogram dinilai masih ideal untuk orang utan betina, tetapi pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan.

"Untuk pemeriksaan lanjutan, kami akan memeriksa sampel darah di laboratorium. Kami juga akan melihat kondisinya setelah sadar dari pembiusan, apakah ada efek lain yang sebelumnya tidak ditemukan saat pemeriksaan di lapangan," ujar Ichlasul.

Hasil Pemeriksaan Jadi Dasar Penentuan Lokasi Translokasi

Hasil pemeriksaan laboratorium akan menjadi bahan koordinasi dengan BKSDA untuk menentukan langkah berikutnya. Salah satu opsi yang disiapkan adalah pemindahan atau translokasi orang utan ke lokasi yang sesuai dengan habitatnya.

Evakuasi ini menambah daftar penyelamatan satwa dilindungi di Kalimantan Tengah selama musim karhutla. Kawasan gambut yang terbakar memaksa satwa keluar dari habitat dan mendekati permukiman warga, sehingga laporan dari masyarakat menjadi kunci deteksi dini.

Reporter: Mahfud Ridwan
Sumber: news.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top