Pemkab Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, menginstruksikan Dinas Sosial menelusuri keberadaan tiga warga Sampit yang belum diketahui nasibnya setelah KM Virgo Transport 8 hilang kontak di perairan Laut Jawa, Minggu (13/9). Koordinasi dengan Basarnas Kotim dan Basarnas Kalimantan Selatan akan dilakukan begitu identitas ketiganya dipastikan sebagai warga daerah tersebut.
SAMPIT — Wakil Bupati Kotim Irawati menyatakan pihaknya belum bisa memastikan apakah ketiga orang yang disebut-sebut berada di KM Virgo Transport 8 benar-benar warga Kotawaringin Timur. Informasi yang beredar di masyarakat menyebut dua di antaranya pasangan suami istri asal Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, satu orang warga Perumahan Sinar Fajar, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, yang berprofesi sebagai sopir.
"Terkait itu kan kita masih mendengar praduga. Kita belum tahu kejelasannya apakah benar yang bersangkutan warga Kotim, dari Kecamatan Mentaya Hilir Selatan," kata Irawati di Sampit, Senin.
Pemkab Kotim telah menginstruksikan Dinas Sosial untuk menelusuri keberadaan keluarga dan identitas orang-orang tersebut. Pemerintah daerah juga menyiapkan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan serta Basarnas untuk mendukung operasi pencarian.
Dua warga yang diduga berada dalam KM Virgo Transport 8 diketahui bernama Helianto (55) dan Novika Liana (43). Keduanya disebut warga asli Sampit dan masih memiliki aktivitas usaha di Kotim, meskipun saat ini berdomisili di Surabaya.
Anak korban, Rico, membenarkan bahwa kedua orang tuanya berada dalam kapal yang berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin tersebut. Keduanya berencana melanjutkan perjalanan ke Sampit untuk menghadiri acara pernikahan keluarga.
"Betul, ibu sama ayah dengan nama Helianto dan Novika Liana," ungkap Rico.
Rico mengatakan komunikasi terakhir dengan ayahnya terjadi sekitar pukul 01.00 WIB atau 02.00 WITA. Saat itu, Helianto mengabarkan bahwa kapal dalam kondisi miring sebelum komunikasi kemudian terputus.
"Itu komunikasi terakhir dengan orang tua. Sampai sekarang belum ada komunikasi lagi," tambahnya.
Kerabat korban yang juga Anggota DPRD Kotim, Wahito Fajriannor, mengungkapkan pihak keluarga terus berusaha memperoleh informasi dari Basarnas maupun pihak lainnya. Hingga Senin, nama Helianto dan Novika belum diketahui dalam daftar korban yang ditemukan ataupun dievakuasi.
"Kami tetap berupaya mencari keterangan dan mencari kejelasan dari pihak Basarnas yang memang saat ini bekerja keras mencari korban-korban lainnya. Sampai pagi ini keluarga kami masih belum ada," tuturnya.
Menurut Wahito, kondisi darurat tersebut diketahui keluarga setelah Helianto menghubungi kerabat sekitar pukul 02.00 WITA. Sekitar satu jam kemudian, Novika juga sempat menghubungi anak bungsunya dan meminta keluarga mendoakan keselamatan mereka.
Keluarga kemudian membagi anggota untuk mencari informasi di sejumlah lokasi, termasuk rumah sakit, guna memastikan keberadaan keduanya dalam kondisi apapun.
KM Virgo Transport 8 sebelumnya dilaporkan membawa 243 orang dalam perjalanan dari Surabaya menuju Banjarmasin. Kapal tersebut hilang kontak sekitar pukul 02.00 WITA di perairan Laut Jawa, dengan posisi terakhir sekitar 80 mil laut dari Dermaga SAR Basirih, Banjarmasin.
Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, sebagian penumpang telah berhasil dievakuasi, sementara sejumlah korban meninggal dunia juga telah ditemukan.
Irawati menambahkan, terkait kewenangan pemerintah daerah dalam situasi kecelakaan atau musibah di perairan, Pemkab Kotim pada prinsipnya memberikan dukungan melalui koordinasi dengan Basarnas dan instansi terkait.
"Kalau batasan biasanya kan kita kerja sama dengan Basarnas. Dan kalau Basarnas itu biasanya 15 hari pencarian, apabila sudah lewat dari itu dia tidak akan melakukan pencarian lagi," pungkasnya.
Pemkab Kotim tidak ingin terburu-buru menyimpulkan kondisi kedua warga tersebut sebelum memperoleh informasi resmi dari tim pencarian. Pemerintah daerah akan mengikuti perkembangan operasi pencarian yang dilakukan tim SAR.