SAMPIT — Barbershop di dalam Lapas Kelas IIB Sampit kini mulai ramai peminat, bukan hanya dari warga binaan, tetapi juga para petugas. Layanan potong rambut ini menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian yang digagas pihak lapas untuk membekali narapidana dengan keterampilan kerja yang aplikatif.
Dalam program ini, warga binaan tidak sekadar diajari teori memangkas rambut. Mereka langsung praktik memberikan pelayanan kepada pelanggan, mulai dari sesama WBP hingga petugas keamanan. Hasil cukuran yang rapi dan rapi membuat jasa barbershop ini terus dicari.
Seluruh aktivitas berlangsung di bawah pengawasan ketat Kepala Regu Pengamanan (Karupam), Andie Ramadhahi. Langkah ini memastikan pelayanan berjalan aman, tertib, dan sesuai aturan yang berlaku di dalam lapas.
Kepala Lapas Kelas IIB Sampit, Muhammad Yani, menegaskan program barbershop ini dirancang sebagai investasi jangka panjang bagi para warga binaan. Ia ingin mereka memiliki keterampilan yang bernilai ekonomis setelah kembali ke masyarakat.
“Program barbershop ini merupakan bagian dari pembinaan kemandirian yang kami berikan kepada warga binaan. Kami ingin mereka memiliki keterampilan yang dapat menjadi bekal untuk bekerja atau bahkan membuka usaha sendiri setelah kembali ke masyarakat. Dengan demikian, mereka memiliki peluang lebih besar untuk hidup mandiri dan produktif,” ujar Muhammad Yani.
Selain meningkatkan kemampuan teknis mencukur, kegiatan ini juga bertujuan membentuk karakter warga binaan. Pihak lapas berharap pelatihan ini mampu menumbuhkan rasa percaya diri, kedisiplinan, serta etos kerja yang kuat pada setiap peserta pembinaan.
Ke depan, Lapas Sampit berencana terus mengembangkan program serupa. Fokus pembinaan tidak hanya berorientasi pada masa menjalani pidana, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi kehidupan warga binaan setelah mereka bebas dan kembali ke tengah-tengah masyarakat.