SAMPIT — Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan masih menyelimuti sejumlah sudut Kota Sampit. Jarak pandang yang dilaporkan kurang dari 200 meter menunjukkan pekatnya asap yang bertahan di wilayah tersebut.
Warga Sampit, Nunung Adi Satriyanto, menyebut hujan sempat turun sebelumnya. Namun hujan hanya berlangsung sebentar dengan intensitas tidak terlalu deras sehingga belum mampu mengurangi kepekatan asap.
Belajar dari Rumah Akibat Asap Pekat
Dampak paling terasa dirasakan anak-anak sekolah. Nunung mengatakan siswa harus menjalani pembelajaran dari rumah atau BDR karena kondisi asap dinilai sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan aktivitas belajar.
"Kemarin pun sempat turun hujan, tetapi tidak lebat dan tidak berlangsung lama. Sementara itu, asap masih terlalu pekat. Kondisi ini sangat berpengaruh, terutama terhadap anak-anak sekolah. Akibatnya, anak-anak harus menjalani pembelajaran dari rumah atau BDR," kata Nunung di Sampit, Selasa, 27 Oktober 2026.
Kabut asap juga mengganggu aktivitas harian masyarakat di luar rumah. Nunung menyebut warga sudah berupaya meminta bantuan ke berbagai pihak untuk mengatasi kondisi tersebut.
Warga Berharap Hujan Segera Turun
Harapan warga kini tertuju pada turunnya hujan yang lebih deras. Nunung menyebut doa menjadi salah satu upaya yang bisa dilakukan warga sembari menunggu bantuan penanganan karhutla.
"Harapan kita tidak lain adalah hujan segera turun. Kita sudah meminta bantuan ke mana-mana, tetapi sekarang yang bisa kita lakukan adalah berdoa. Mudah-mudahan hujan segera turun," ujarnya.
Pada Selasa pagi, kondisi cuaca di Sampit tampak gelap akibat perpaduan kabut asap dan awan mendung. Nunung berharap kondisi tersebut menjadi pertanda turunnya hujan yang dapat membantu mengurangi pekatnya asap.
"Mudah-mudahan kita bisa mendapatkan hujan untuk membantu memperbaiki kondisi cuaca dan mengurangi kepekatan asap yang menyelimuti wilayah ini," tuturnya.
Jarak Pandang Kurang dari 200 Meter
Kabut asap terlihat di sejumlah sudut Kota Sampit. Jarak pandang kurang dari 200 meter menjadi penanda pekatnya asap yang menyelimuti wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur.
Warga berharap penanganan karhutla dan turunnya hujan dapat segera memulihkan kondisi udara. Hingga kini, asap masih menjadi persoalan utama yang membatasi aktivitas warga Sampit.