SAMPIT — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memasuki fase kritis. Data BPBD Kotim per 8 Agustus 2026 menunjukkan, akumulasi hotspot sejak Januari hingga awal Agustus tahun ini telah menembus angka 1.257 titik.
Angka tersebut berbanding terbalik dengan catatan sepanjang tahun lalu yang hanya 453 titik. Artinya, dalam kurun waktu tujuh bulan, jumlah titik panas di Kotim hampir tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan total satu tahun penuh pada 2025.
Kecamatan dengan Titik Panas Terbanyak
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam melaporkan, sebaran hotspot tidak merata dan terkonsentrasi di beberapa wilayah. Kecamatan Kota Besi menjadi wilayah dengan titik panas tertinggi sepanjang 2026, mencapai 241 titik.
Disusul Mentawa Baru Ketapang dengan 152 titik, Mentaya Hilir Utara 138 titik, Seranau 135 titik, dan Antang Kalang 101 titik. Wilayah lainnya mencatat jumlah bervariasi, mulai dari Teluk Sampit 73 titik, Baamang 69 titik, hingga Mentaya Hilir Selatan yang hanya satu titik.
373 Hektare Lahan Hangus Terbakar
Lonjakan hotspot ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas penanganan di lapangan. Hingga 8 Agustus 2026, Satgas Karhutla telah menangani 203 kejadian kebakaran dengan total luas lahan terbakar mencapai 373,87 hektare.
Luas kebakaran terbesar tercatat di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang yang mencapai 92 hektare. Menyusul Baamang dengan 85,67 hektare dan Pulau Hanaut seluas 82,65 hektare.
Satgas Kewalahan, Kejadian Harian Capai Belasan
Intensitas kebakaran yang tinggi membuat Satgas Karhutla yang melibatkan berbagai instansi harus bekerja ekstra. Dalam sehari, petugas bisa menerima laporan belasan kejadian kebakaran yang muncul di sejumlah titik secara bersamaan.
“Sebaran hotspot juga terjadi di sejumlah wilayah. Kota Besi menjadi kecamatan dengan jumlah hotspot tertinggi sepanjang 2026, yakni 241 titik,” kata Multazam dalam laporannya, Senin (10/8/2026).
Kondisi ini diperkirakan akan memburuk jika tidak diimbangi dengan kesadaran masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Puncak musim kemarau biasanya terjadi pada Agustus hingga September, yang berpotensi menambah jumlah titik panas secara signifikan.