SAMPIT — Aktivitas penyeberangan di Sungai Mentaya, Sampit, Kalimantan Tengah, mulai berjalan tidak normal. Selimut kabut asap pekat yang turun pada pagi hari membuat para pengemudi kelotok harus ekstra hati-hati saat menentukan jalur pelayaran, Minggu (9/8).
Kondisi ini tidak hanya memperlambat laju perahu, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan di tengah alur sungai yang kerap dilintasi kapal berukuran besar. Para nakhoda mengaku tidak bisa lagi mengandalkan pandangan mata secara bebas untuk memantau situasi di sisi kiri dan kanan perahu.
Pengemudi Kelotok Wajib Baca Alur Sebelum Berlayar
Salah seorang pengemudi kelotok, Amat, menuturkan bahwa kabut asap kerap kali menutupi alur Sungai Mentaya, khususnya pada pagi hari. Sebelum memutuskan berangkat, ia dan rekan-rekannya kini diwajibkan untuk memastikan kondisi alur terlebih dahulu agar perjalanan tetap aman.
"Kalau mau jalan harus lihat alur dulu. Kalau alur turun, jangan coba-coba menyusur air. Kita menyusur ke sana dulu ke hulu, baru kita tembak ke situ. Susah kita mau lihat," kata Amat di Sampit, Minggu (9/8).
Ia menambahkan, keterbatasan jarak pandang membuatnya tidak leluasa memantau pergerakan kapal lain. Situasi ini semakin berisiko ketika kelotok harus berbagi jalur dengan tongkang yang memiliki ukuran jauh lebih besar.
"Kita mau lihat kiri kanan tidak bisa, harus lurus saja kita. Harus waspada kalau ada tongkang lewat, kita harus hati-hati," ujarnya.
Jam Sibuk Penyeberangan Bertepatan dengan Kabut Tertebal
Pengemudi kelotok lainnya, Irul, menyebutkan bahwa puncak aktivitas penyeberangan justru terjadi pada pagi hari, bersamaan dengan kondisi kabut asap yang paling tebal. Banyak warga dari Kecamatan Seranau dan sekitarnya yang harus menyeberang ke Sampit untuk bekerja, bersekolah, atau memenuhi kebutuhan lain.
Meski jarak pandang terbatas, para pengemudi tidak bisa menunda waktu keberangkatan. Hal ini dilakukan demi mengantar para penumpang, termasuk anak-anak sekolah, agar tidak terlambat tiba di tujuan.
"Kami juga tidak bisa leluasa menunda waktu menyeberang, apalagi ada anak-anak sekolah, kasihan mereka kalau sampai terlambat. Makanya, kami berharap musibah kabut asap ini segera berlalu," ucap Irul.
Penumpang Waswas, KSOP Terbitkan Maklumat Pelayaran
Kekhawatiran serupa dirasakan oleh pengguna jasa penyeberangan. Ika, seorang warga yang rutin menyeberang pada pagi hari, mengaku perjalanannya menjadi kurang nyaman karena harus berada di tengah udara yang dipenuhi asap. Meski demikian, ia tetap harus menyeberang karena ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan.
"Kami sebagai penumpang tentu berharap perjalanan tetap aman. Kalau jarak pandang terbatas, pengemudi memang harus lebih pelan dan hati-hati, karena kita tidak tahu ada kapal atau kelotok lain dari arah mana," tuturnya.
Menanggapi situasi ini, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Sampit telah mengeluarkan maklumat pelayaran atau Notice to Mariners. Imbauan ini ditujukan kepada seluruh insan pelayaran untuk mewaspadai gangguan jarak pandang yang disebabkan kabut asap tebal, khususnya pada pagi dan malam hari.
"Maklumat pelayaran ini kami sampaikan sehubungan dengan kebakaran lahan yang mengakibatkan kabut asap tebal menurunkan jarak pandang (visibility) di sebagian wilayah kerja KSOP Kelas III Sampit," kata Kepala KSOP.