KALIMANTAN TENGAH — Pemanfaatan limbah pembangkit listrik untuk infrastruktur publik mulai menunjukkan hasil nyata di Maluku Utara. PLN Unit Pelaksana Pembangkitan (UPK) Maluku menyalurkan ratusan ton FABA—singkatan dari Fly Ash dan Bottom Ash—untuk proyek penataan Sirkuit Selawaring. Material ini bukan sekadar limbah, melainkan sudah ditetapkan sebagai non-B3 sehingga aman digunakan sebagai bahan timbunan.
Manajer PLN UPK Maluku, Maknun Amin, menegaskan bahwa realisasi ini adalah wujud komitmen perusahaan menghadirkan manfaat luas bagi masyarakat. "PLN UPK Maluku bangga dapat berkontribusi dalam penataan Area Sirkuit Selawaring melalui pemanfaatan 300 ton FABA dari PLTU Tidore. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa FABA dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pembangunan infrastruktur sekaligus mendukung penyelenggaraan Wali Kota Tidore Cup Race 2026," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (1/8).
Sinergi PLN dan Pemkot untuk Infrastruktur Berkelanjutan
Program ini lahir dari koordinasi intensif antara PLN dan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan. Sebelum merealisasikan penyaluran material, kedua pihak menjalani serangkaian proses, mulai dari audiensi, survei lapangan, hingga penyusunan rencana teknis pemanfaatan FABA sebagai material penguat kontur lintasan.
General Manager PLN UIK Dwipantara, Rita Triani, menjelaskan bahwa kerja sama ini adalah contoh konkret pembangunan berkelanjutan. "Sinergi antara PLN dan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan dapat diwujudkan melalui kolaborasi. Pemanfaatan FABA menjadi salah satu langkah nyata PLN dalam mendukung ekonomi sirkular sekaligus menghadirkan manfaat sosial, lingkungan, dan ekonomi bagi masyarakat," kata Rita.
Dampak Ganda: Infrastruktur Siap dan Ekonomi Sirkular Jalan
Penataan Sirkuit Selawaring bukan hanya menyiapkan venue balap untuk ajang Wali Kota Tidore Cup Race 2026. Lebih dari itu, penggunaan FABA di proyek ini membuktikan bahwa residu pembakaran batu bara bisa menjadi bahan baku bernilai ekonomi. Prinsip ekonomi sirkular yang diusung PLN ini memastikan material yang tadinya dianggap limbah justru berkontribusi pada pembangunan daerah.
Pemanfaatan FABA juga mengurangi kebutuhan material galian C yang sering kali memicu kerusakan lingkungan. Dengan begitu, proyek ini memberikan keuntungan ganda: infrastruktur olahraga terbangun dan dampak ekologis dari penambangan konvensional bisa ditekan.
Target 5.000 Ton untuk Fasilitas Publik Lainnya
Langkah PLN UPK Maluku tidak berhenti di sirkuit. Perusahaan menargetkan pemanfaatan sekitar 5.000 ton FABA secara bertahap untuk mendukung pembangunan berbagai fasilitas publik di Kota Tidore Kepulauan. Rencana jangka panjang ini diharapkan memperkuat implementasi ekonomi sirkular di lingkungan perusahaan sekaligus memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang berkelanjutan bagi warga sekitar.
Dengan adanya target tersebut, kolaborasi antara BUMN energi dan pemerintah daerah ini berpotensi menjadi model bagi daerah lain di Indonesia Timur dalam mengelola limbah industri secara produktif.