KALIMANTAN TENGAH — Setelah menonton ulang The Taking of Pelham 123 untuk rangkaian Denzel Watchathon, satu hal yang paling mencolok justru bukan akting Denzel Washington, melainkan betapa film ini menyia-nyiakan empat nama besar sekaligus di dalamnya. Remake thriller aksi rilisan 2009 ini dapat nilai 2,5 dari 5 bintang dari Tom's Guide, dan bisa disaksikan lewat Philo atau layanan streaming on-demand lain. Ada satu masalah besar yang membuat film ini terasa jauh dari kata istimewa.
The Taking of Pelham 123 bukanlah film yang buruk. Masalahnya, film ini juga jauh dari kata bagus. Inilah yang membuatnya terasa begitu rata, sebuah thriller aksi yang berjalan tanpa satu pun momen yang benar-benar mengangkat atau menjatuhkannya. Saya menontonnya sebagai bagian dari Denzel Watchathon, rangkaian ulasan film Denzel Washington yang saya jalani selama setahun terakhir.
Perlu diluruskan sejak awal: The Taking of Pelham 123 berbeda dari The Taking of Pelham One Two Three. Yang pertama adalah remake rilisan 2009, sedangkan yang kedua adalah thriller aksi rilisan 1974 yang menurut catatan reviewer Tom's Guide justru benar-benar bagus. Keduanya diadaptasi dari novel karya John Godey dengan judul yang sama.
Dalam versi 2009, sekelompok pria bersenjata membajak kereta Pelham 123, sebuah kereta 6 New York City yang berangkat dari Pelham Bay pukul 13.23. Kelompok ini dipimpin Ryder, diperankan John Travolta. Ia menuntut tebusan 10 juta dolar dari Wali Kota New York (James Gandolfini), diserahkan dalam waktu satu jam, atau ia akan mulai membunuh satu sandera setiap menitnya.
Penghubung antara Ryder dan Wali Kota adalah Walter Garber (Denzel Washington), petugas dispatcher kereta bawah tanah MTA yang menerima panggilan tuntutan tebusan, serta Lt. Vincent Camonetti (John Turturro), negosiator sandera NYPD yang sempat mengambil alih situasi. Namun film ini sebenarnya lebih banyak berkisah tentang Ryder dan Garber.
Di sinilah masalah terbesar film ini muncul. Meski diperkuat Denzel Washington, John Travolta, John Turturro, dan James Gandolfini, nyaris semuanya tidak dimaksimalkan. Menurut penilaian Tom's Guide, ini bahkan mungkin film pertama yang diperankan Denzel di mana ia bisa digantikan aktor lain dan hasilnya tetap sama bagusnya, atau setidaknya mendekati.
Bahkan tanpa keempat nama itu, dengan aktor pengganti biasa dan tanpa mengubah apapun, film ini kemungkinan besar tetap menghasilkan tontonan yang setara. Satu-satunya pengecualian mungkin Travolta, yang aktingnya benar-benar dipacu sampai batas maksimal. Entah itu arahan sutradara atau pilihan skrip, karakter Ryder memang tidak digambarkan sebagai sosok yang kalem.
Kalau pun itu murni pilihan akting Travolta, pendekatan yang lebih halus mungkin akan jadi perbaikan. Tapi reviewer Tom's Guide sendiri mengaku tidak yakin soal itu. Yang jelas, satu-satunya hal yang membuat film ini mudah dikenali adalah gaya visual khas Tony Scott, setidaknya bagi penonton yang sudah akrab dengan karya-karyanya.
Titik tertinggi film ini datang saat Ryder membunuh masinis kereta sebagai respons atas Camonetti yang mengambil alih telepon dari Garber. Di momen itulah penonton baru benar-benar merasakan taruhan nyata dari situasi penyanderaan ini. Sayangnya, satu momen itu tidak cukup untuk mengangkat keseluruhan film.
Kecuali Anda seorang kolektor yang ingin menonton seluruh filmografi Denzel Washington, film ini tidak wajib ditonton. Bukan hanya karena tidak terlalu layak menyita waktu, tapi juga karena versi asli rilisan 1974 bisa disaksikan gratis di Tubi dan menurut penilaian Tom's Guide merupakan film yang lebih baik.
Kalau tetap ingin menonton versi remake ini, sekarang waktu yang tepat. Film ini kemungkinan bisa disaksikan gratis lewat Philo dengan uji coba tujuh hari, atau sebagai video on-demand lewat langganan TV kabel, satelit, maupun layanan live TV streaming. Reviewer Tom's Guide sendiri menontonnya gratis lewat YouTube TV dan mengaku lega hanya perlu mengeluarkan waktu hampir dua jam, bukan uang hasil kerja kerasnya.
Untuk penonton yang mencari thriller aksi penyanderaan dengan tensi tinggi, versi 1974 jelas pilihan yang lebih tepat. The Taking of Pelham 123 rilisan 2009 cocok hanya bagi mereka yang mengejar kelengkapan filmografi Denzel Washington, atau yang penasaran melihat bagaimana Tony Scott menangani ulang cerita klasik ini.