KALIMANTAN TENGAH — Persaingan laptop murah kian memanas. ASUS baru saja meluncurkan Vivobook 14SE dan 16SE di China, sebuah gebrakan yang menggunakan chip Intel Wildcat Lake—prosesor anyar yang belum banyak diadopsi pabrikan lain. Langkah ini menjadi sinyal bahwa ASUS tidak ingin ketinggalan dalam perang harga melawan Apple, khususnya menjelang kehadiran MacBook Neo yang dikabarkan lebih terjangkau.
Kedua model ini hadir dengan konfigurasi yang identik di sektor dapur pacu. Berikut rincian spesifikasi yang diungkap dalam peluncuran tersebut:
Dengan konfigurasi port yang lengkap, Vivobook ini menawarkan pengalaman plug-and-play yang lebih praktis dibanding pendekatan minimalis Apple yang kerap memaksa pengguna membawa dongle tambahan.
Intel Core 5 320 yang dibawa ASUS bukanlah chip kelas atas, melainkan prosesor mainstream yang dirancang untuk menekan biaya produksi tanpa mengorbankan performa harian. Dengan membawa arsitektur Wildcat Lake ke pasar lebih awal, ASUS memberikan cerita baru di segmen laptop terjangkau—sebuah nilai jual yang sulit ditandingi kompetitor yang masih mengandalkan chip generasi sebelumnya.
Kombinasi RAM 16 GB dan SSD 512 GB juga menjadi standar yang cukup lega untuk multitasking pengguna kantoran atau mahasiswa. Artinya, pengguna tidak perlu langsung upgrade memori setelah membeli.
Saat ini, ASUS baru memasarkan Vivobook 14SE dan 16SE di China. Berikut rincian harga resminya:
Harga untuk varian 14SE belum diumumkan secara terpisah. ASUS dikabarkan akan segera merilis informasi ketersediaan global, termasuk kemungkinan masuk ke Indonesia. Jika harga internasional tidak melonjak jauh dari angka tersebut, posisi ASUS sebagai alternatif laptop murah dengan layar berkualitas akan semakin kuat.
Keunggulan paling jelas dari Vivobook 16SE ada pada layarnya. Panel IPS 2.5K 144Hz dengan kecerahan 400 nit dan dukungan Variable Refresh Rate (VRR) adalah spesifikasi yang biasanya hanya ditemukan di laptop gaming atau premium. Di harga Rp 12 jutaan, fitur ini menjadi pembeda utama melawan MacBook Neo yang belum jelas spesifikasi layarnya.
Apple memang masih unggul dalam hal efisiensi baterai dan loyalitas ekosistem macOS. Namun, ASUS menawarkan layar lebih besar, refresh rate lebih tinggi, dan port yang lebih lengkap dengan harga yang sangat agresif. Bagi pengguna yang tidak terikat ekosistem Apple, tawaran ini sulit diabaikan.
Vivobook 14SE dan 16SE jelas ditujukan untuk pembeli yang mengutamakan nilai (value for money) ketimbang gengsi merek. Mahasiswa, pekerja kantoran, atau content creator pemula yang membutuhkan laptop dengan layar lega dan responsif akan menjadi target utama. Namun, keputusan final sangat tergantung pada harga jual di pasar global dan Indonesia.
Jika ASUS mampu mempertahankan banderol di bawah Rp 13 juta dengan spesifikasi tersebut, lini Vivobook ini berpotensi menjadi kuda hitam di segmen entry-level sepanjang 2025.