Wakil Bupati Kotim Irawati Turun Langsung Gotong Royong Bersihkan Drainase di Sampit, Banjir Rendam Sekolah dan Puskesmas

Penulis: Nanda Firmansyah  •  Selasa, 19 Mei 2026 | 17:57:55 WIB
Wakil Bupati Kotim Irawati memimpin gotong royong pembersihan drainase di Sampit.

SAMPIT — Sekolah dan puskesmas di Kecamatan Baamang serta Mentawa Baru Ketapang menjadi korban banjir yang melanda Kota Sampit. Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Irawati menyebut genangan cukup parah di sejumlah titik, terutama di wilayah dapil lima bagian utara.

Pemerintah kabupaten merespons dengan mengerahkan personel gabungan dari organisasi perangkat daerah (OPD), kelurahan, dan warga untuk membersihkan saluran air yang tersumbat. Gotong royong dipusatkan di sepanjang Jalan Cristopel Mihing hingga Simpang Desmon Ali, Selasa (19/5/2026).

Empat Alat Berat Dikerahkan untuk Normalisasi Drainase

Sebelum aksi manual, Pemkab Kotim telah menurunkan empat unit alat berat ke sejumlah titik rawan banjir. “Kemarin alat berat sudah kami turunkan melalui dinas teknis di beberapa lokasi,” ujar Irawati di sela kegiatan.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kotim A Taufik, Plt Camat Baamang Yudi Aprianur, serta Kasatpol PP Widya Yulianti turut hadir dalam gotong royong tersebut. Petugas membawa peralatan manual seperti cangkul, parang, garuk, dan kantong sampah untuk membongkar drainase yang tersumbat sampah serta endapan pasir.

Banjir di Sampit: Jalan Cristopel Mihing hingga Perumahan Bromo Terendam

Irawati merinci sejumlah lokasi genangan, di antaranya Jalan Cristopel Mihing, Jalan Walter Condrad, kawasan Tjilik Riwut, hingga Perumahan Bromo. Dalam proses pembersihan, petugas juga membongkar sejumlah drainase dan jembatan kayu milik warga yang dinilai menghambat aliran air.

“Alhamdulillah setelah kami turun langsung dan memberikan pemahaman, masyarakat mau bekerja sama karena ini untuk kepentingan bersama,” kata Irawati.

Kendala di Lapangan: Bangunan Warga Menjorok ke Sungai

Penanganan drainase di kawasan padat permukiman tidak selalu mudah. Irawati mengungkapkan bahwa beberapa saluran air sulit dijangkau alat berat karena adanya bangunan warga yang menjorok ke drainase maupun sungai. “Ada beberapa rumah yang memang menjorok ke sungai sehingga alat berat tidak bisa masuk,” ungkapnya.

Sembari menunggu proses normalisasi drainase secara bertahap, pemerintah daerah mengandalkan gotong royong manual. Irawati mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan drainase dan tidak membuang sampah sembarangan agar banjir dapat diminimalisir saat musim hujan. “Penanganan banjir tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga membutuhkan kesadaran dan partisipasi seluruh masyarakat,” tandasnya. (to)

Reporter: Nanda Firmansyah
Sumber: kaltengekspres.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top