KALIMANTAN TENGAH — Tekanan terhadap rupiah kembali menguat pada perdagangan Selasa (19/5) pagi. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda dibuka melemah 13 poin di level Rp 17.681, lalu terus merosot hingga ke Rp 17.724 per dolar AS. Level ini menjadi yang terendah dalam sejarah pencatatan nilai tukar rupiah.
Pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri. Mayoritas mata uang Asia juga berada di zona merah pagi ini. Won Korea Selatan menjadi yang paling tertekan dengan pelemahan 0,74%, disusul baht Thailand yang turun 0,18%, serta dolar Singapura dan yen Jepang yang masing-masing melemah 0,09% dan 0,08%. Rupee India dan yuan China juga ikut terdepresiasi meski tipis.
Analis Doo Financial Lukman Leong menilai ada secercah sentimen positif dari panggung global. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang akan menunda rencana serangan terhadap Iran meredakan sebagian kekhawatiran pasar akan eskalasi konflik Timur Tengah. "Peluang rupiah untuk menguat masih ada, tapi sangat terbatas," ujar Lukman.
Keterbatasan ruang penguatan itu, menurutnya, berasal dari kondisi fundamental domestik yang masih dinilai lemah oleh pasar. Para pelaku pasar kini berada dalam mode wait and see, menanti hasil RDG Bank Indonesia. Ekspektasi yang beredar luas adalah BI akan menaikkan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas kurs di tengah derasnya arus modal asing yang keluar.
Antisipasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat ini justru membuat investor cenderung menahan diri. "Ekspektasi kenaikan suku bunga membuat pelaku pasar berhati-hati dalam mengambil posisi," tambah Lukman. Sikap wait and see ini semakin menekan pergerakan rupiah di pasar spot.
Untuk perdagangan hari ini, Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.700 per dolar AS. Artinya, meski ada potensi penguatan tipis, risiko penembusan level terendah baru masih terbuka lebar jika tekanan beli dolar AS terus berlanjut.
Bagi investor dan pelaku bisnis yang memiliki kewajiban dalam dolar AS, situasi ini menjadi sinyal untuk mengelola eksposur valas secara lebih ketat. Keputusan BI dalam RDG besok akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah dalam beberapa pekan ke depan.