KALIMANTAN TENGAH — BRI Super League musim depan akan menyajikan salah satu laga paling dinanti: Derby Daerah Istimewa Yogyakarta. Kepastian ini lahir setelah PSS Sleman promosi sebagai runner-up Pegadaian Championship 2025/2026, bergabung dengan PSIM Yogyakarta yang sudah lebih dulu mengamankan tempat.
Derby DIY terakhir terjadi di Liga 2 musim 2018. Setelah penantian panjang, duel antar dua tim Mataram ini akhirnya kembali ke level tertinggi.
Jauh sebelum kick-off, manajemen kedua klub sudah mengambil langkah antisipatif. Mereka kompak menyerukan pesan damai agar rivalitas tidak berujung gesekan antarsuporter.
Direktur PSS Sleman, Yoni Arseto, menegaskan hubungan pihaknya dengan PSIM berjalan baik. Ia berharap slogan Mataram Islah benar-benar diwujudkan oleh pendukung kedua tim.
"Yang saya harapkan adalah masyarakat, terutama suporter dari PSS Sleman dan PSIM Jogja itu saya berharap untuk saling berkolaborasi. Istilahnya Mataram Islah. Kita ini bersaudara, apa pun benderanya tetap saudara," ujar Yoni, Senin (18/5/2026).
Direktur Utama PSIM Yogyakarta, Liana Tasno, menyambut promosi PSS dengan ucapan selamat. Baginya, Derby DIY adalah momentum menunjukkan rivalitas sepak bola bisa berjalan berdampingan dengan persaudaraan.
Liana mengingatkan agar semua pihak tidak melupakan Tragedi Kanjuruhan. Ia menekankan bahwa momen saling merangkul di Mandala Krida bersama Persis Solo harus menjadi kebiasaan, bukan sekadar seremonial.
"Tragedi Kanjuruhan itu jangan dilupakan. Jangan menjadi event yang cuma ya lagi ada begitu terus peluk-pelukan, habis itu lupa. Enggak boleh begitu. Jadi kita musti benar-benar bersaudara," kata Liana.
Wanita berusia 41 tahun itu menambahkan, nilai-nilai olahraga seperti fair play dan sportivitas harus ditanamkan. "Kita jagalah Mataram Is Love itu. Benar-benar kita jaga," sambungnya.
Baik Yoni maupun Liana sepakat bahwa kunci utama ada di tangan suporter. Mereka berharap atmosfer derby tetap panas secara sportif tanpa menimbulkan kerusuhan.
Yoni mengingatkan bahwa sepak bola seharusnya menjadi sarana mempererat persaudaraan, bukan pemecah hubungan. "Ini hanya olahraga, kalau bisa semua menjaga kondusivitas masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta," pungkasnya.