JAKARTA — Suasana perdagangan awal pekan di Bursa Efek Indonesia berlangsung suram. IHSG tercatat jatuh ke level 6.584,762 setelah kehilangan lebih dari 138 poin pada pembukaan. Sebelumnya, pada sesi preopening, indeks sudah menunjukkan sinyal negatif dengan terkoreksi 1,40 persen.
Pelemahan ini tidak berdiri sendiri. Di pasar valuta asing, rupiah pagi ini juga masih bergerak di zona merah. Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, mata uang Garuda melemah 33 poin atau 0,19 persen ke level Rp 17.630 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah ini menambah deretan sentimen negatif yang membayangi pasar keuangan domestik.
Tekanan jual tidak hanya terjadi di Indonesia. Sebagian besar bursa saham Asia pagi ini juga kompak melemah. Nikkei 225 di Jepang turun 1,02 persen, Hang Seng di Hong Kong melemah 1,06 persen, dan Straits Times di Singapura terkoreksi 0,32 persen.
Satu-satunya yang mencatatkan penguatan tipis adalah indeks SSE Composite di China yang naik 0,06 persen. Angka ini menunjukkan bahwa pasar masih mencari arah di tengah ketidakpastian global, termasuk kekhawatiran akan suku bunga acuan AS dan perlambatan ekonomi di beberapa negara maju.
Level 6.584 yang kini dihuni IHSG menjadi titik kritis. Dalam beberapa pekan terakhir, indeks sempat bertahan di atas level 6.600. Tembusnya level psikologis tersebut ke bawah bisa memicu aksi jual lebih lanjut, terutama dari investor ritel dan asing yang masih wait and see.
Di sisi lain, pelemahan rupiah ke Rp 17.630 per dolar AS kian mendekati level psikologis Rp 17.700. Jika tekanan berlanjut, Bank Indonesia kemungkinan akan kembali melakukan intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar. Pasar kini menanti data inflasi AS dan keputusan suku bunga The Fed yang akan dirilis dalam waktu dekat sebagai katalis berikutnya.