KALIMANTAN TENGAH — Tekanan jual terpusatkan pada saham-saham kapitalisasi besar yang keluar dari MSCI Global Standard Index, di antaranya PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Volume perdagangan pagi itu mencapai 520 juta saham senilai Rp 290,312 miliar, dengan CUAN, GoTo (GOTO), Aneka Tambang (ANTM), Barito Pacific (BRPT), dan Bumi Resources (BUMI) menjadi saham paling aktif diperdagangkan.
Elandry Pratama, Analis Panin Sekuritas, menjelaskan bahwa pengumuman MSCI akan direspons negatif pasar karena saham-saham yang dikeluarkan merupakan target utama dana asing pasif. "Apalagi yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard merupakan saham-saham dengan kapitalisasi besar dan selama ini menjadi target utama dana asing pasif," ujar Elandry kepada Katadata pada Rabu (13/5).
Fund manager global yang menggunakan MSCI sebagai acuan investasi terikat secara mekanis untuk menyesuaikan portofolio sesuai komposisi indeks baru. Forced selling ini diperkirakan akan terus memberikan tekanan hingga tanggal efektif implementasi pada 1 Juni 2026. Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi menguji support level 6.700 di tengah tekanan ini.
Keputusan MSCI merepresentasikan tren yang lebih luas: menurunnya bobot portofolio Indonesia di MSCI Emerging Markets. Elandry menilai kondisi ini bukan hanya memicu arus keluar dana jangka pendek, tetapi juga merusak visibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global dalam jangka panjang.
Penyusutan bobot tersebut menggambarkan selektivitas investor asing yang semakin ketat terhadap pasar negara berkembang. Negara-negara dengan likuiditas menurun atau dinilai memiliki persoalan tata kelola mulai ditinggalkan. Potensi dana asing yang keluar diperkirakan mencapai ratusan juta dolar AS, khususnya dari passive funds dan exchange-traded funds (ETF) yang wajib menyesuaikan komposisi portofolio mengikuti MSCI.
Meski tekanan jual akan berlanjut, analis melihat sisi positif setelah fase forced selling berakhir. "Setelah tekanan jual teknikal selesai, saham-saham yang fundamentalnya masih solid berpotensi mengalami rebound," kata Elandry.
Dalam jangka pendek, investor disarankan mengadopsi strategi defensif dan lebih selektif memilih saham. Fokus diberikan pada nama-nama dengan likuiditas tinggi, fundamental kuat, valuasi menarik, dan risiko rendah terhadap outflow lanjutan. Kondisi pasar diperkirakan akan tetap volatil hingga efektif implementasi perubahan indeks MSCI pada awal Juni mendatang.