KALIMANTAN TENGAH — Berdasarkan data Bloomberg pukul 9.45 WIB, rupiah terdepresiasi 89 poin atau 0,52 persen ke Rp17.503 per dolar AS. Posisi ini melanjutkan pelemahan dari pembukaan di level Rp17.489, yang sudah turun 75 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Tekanan Menyeluruh di Asia, Dolar AS Kembali Perkasa
Pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri. Mayoritas mata uang Asia kompak tertekan terhadap greenback. Won Korea Selatan menjadi yang terparah dengan anjlok 1 persen, disusul peso Filipina yang melemah 0,50 persen.
Ringgit Malaysia dan yen Jepang sama-sama terdepresiasi 0,22 persen. Dolar Singapura turun 0,20 persen, yuan China melemah 0,01 persen. Hanya dolar Hong Kong yang mampu menguat tipis 0,01 persen terhadap dolar AS.
Tiga Sentimen yang Menekan Rupiah Hari Ini
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengidentifikasi tiga faktor utama. Pertama, meredupnya harapan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memicu ketidakpastian geopolitik.
Kedua, harga minyak mentah dunia yang masih bertahan di level tinggi menjadi beban tambahan bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia. Ketiga, pengumuman MSCI diperkirakan tidak membawa kabar positif bagi indeks harga saham gabungan (IHSG).
"Pengumuman MSCI hari ini diperkirakan tidak akan memberikan berita baik pada IHSG, dan akan ikut menekan rupiah," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com. Investor juga disebutnya tengah menantikan data penjualan ritel Indonesia yang akan dirilis siang ini.
Mata Uang Negara Maju Ikut Tertekan
Tekanan terhadap dolar AS juga terasa di negara maju. Euro Eropa turun 0,17 persen, poundsterling Inggris melemah 0,18 persen, dan dolar Australia terkoreksi 0,24 persen. Dolar Kanada dan franc Swiss juga kompak melemah masing-masing 0,10 persen dan 0,19 persen.
Proyeksi Pergerakan Rupiah ke Depan
Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.350 hingga Rp17.500 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Artinya, level Rp17.500 berpotensi diuji kembali jika tekanan eksternal belum mereda.
Investasi mengandung risiko. Pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan data ekonomi domestik dan kebijakan bank sentral AS yang masih menjadi variabel utama pergerakan kurs dalam jangka pendek.