PALANGKA RAYA — Realisasi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) di Kalimantan Tengah menunjukkan tren positif di awal tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekonomi Bumi Tambun Bungai menyentuh angka Rp61,04 triliun, meski secara kuartalan mengalami kontraksi tipis.
Pertumbuhan ekonomi secara tahunan (year-on-year) tercatat sebesar 3,79 persen. Namun, jika dibandingkan dengan triwulan IV 2025, terjadi kontraksi atau penurunan sebesar 7,46 persen (quarter-to-quarter) yang dipengaruhi oleh pola musiman awal tahun.
Struktur ekonomi Kalteng hingga saat ini masih bersandar pada lima sektor utama, yakni pertanian, industri pengolahan, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Dari kelimanya, sektor pertambangan tampil sebagai penyumbang pertumbuhan paling signifikan bagi daerah.
Plt Kepala BPS Kalteng, Maria Wahyu Utami, menjelaskan bahwa dari sisi pengeluaran, aktivitas ekspor masih memegang peran sebagai kontributor terbesar. Namun, lonjakan pertumbuhan tertinggi justru datang dari sektor konsumsi pemerintah.
“Dari sisi pengeluaran, ekspor menjadi kontributor terbesar, sementara konsumsi pemerintah tumbuh paling tinggi sebesar 5,16 persen,” ujar Maria saat merilis Berita Resmi Statistik di Palangka Raya, Selasa (5/5/2026).
Peningkatan aktivitas ekonomi di awal tahun 2026 juga dipicu oleh tingginya konsumsi rumah tangga. Hal ini bertepatan dengan momentum hari besar keagamaan serta penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) yang meningkatkan daya beli masyarakat secara luas.
Di sektor produksi, terjadi anomali pada beberapa komoditas unggulan. Produksi padi tercatat mengalami kenaikan signifikan, namun komoditas andalan ekspor seperti kelapa sawit dan bauksit justru melandai.
“Komoditas kelapa sawit dan bauksit mengalami penurunan akibat faktor cuaca dan kendala administratif,” tambah Maria.
Secara keseluruhan, BPS menilai kondisi sosial dan ekonomi Kalimantan Tengah masih berada pada jalur positif. Meski demikian, pemerintah daerah tetap diingatkan untuk mewaspadai sejumlah tantangan administratif dan faktor eksternal yang dapat menghambat produksi komoditas utama di sisa tahun berjalan.