KALIMANTAN TENGAH — PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mengerek alokasi investasi migas menjadi sekitar US$6 miliar pada 2026, naik dari realisasi US$4,8 miliar tahun lalu. Langkah ini diambil untuk menahan laju penurunan produksi alamiah lapangan migas yang dikelola perseroan.
Paragraf pembuka: Direktur Keuangan PHE Bayu Kusuma Dewanto menyebut kenaikan belanja modal itu bukan sekadar angka di atas kertas. Tanpa suntikan investasi yang lebih agresif, produksi minyak dan gas nasional berisiko stagnan di tengah kebutuhan energi yang terus bertambah.
Serapan Investasi Tahun Ini Baru 60-70 Persen
Realisasi investasi PHE sepanjang 2025 mencapai sekitar US$4,8 miliar dari pagu US$5 miliar. Untuk tahun berjalan, Bayu mengungkap serapan belanja modal baru mencapai 60-70 persen hingga September.
"Kalau PHE sendiri di 2025 kemarin kita spend sekitar US$5 billion, hampir US$4,8 billion. Nah di 2026, itu di rencana kerja kita sekitar US$6 billion," kata Bayu di Jakarta, Selasa (6/10).
PHE memproyeksikan kenaikan alokasi investasi rata-rata 1,5 kali lipat setiap tahun. Angka itu disebut masih moderat jika Indonesia ingin mengejar ketertinggalan dari sisi cadangan dan produksi.
Natural Decline Lapangan Tua Capai 15 Persen
Sebagian besar lapangan migas yang dikelola PHE sudah masuk fase penurunan alamiah. Di Rokan dan Mahakam, laju penurunan produksi mencapai 10-15 persen per tahun.
Kondisi itu memaksa perseroan mengarahkan mayoritas belanja modal untuk mempertahankan produksi lapangan eksisting. Caranya lewat pengeboran pengembangan, infill drilling, pemeliharaan sumur, serta kegiatan work over dan well service (WOWS).
"Indonesia ini mengalami naturally decline. Kayak di Rokan, di Mahakam, declining rate-nya cukup besar. Belasan, saya kira di luar PHI juga mengalami hal itu, mungkin sekitar 10-15% declining rate," ujar Bayu.
PHE juga menyisihkan dana cukup besar untuk eksplorasi. Menurut Bayu, eksplorasi menjadi kunci menemukan sumber daya baru yang bisa menopang kebutuhan energi jangka panjang.
Modal Besar untuk Temukan Cadangan Raksasa
Bayu menilai investasi terbatas hanya akan menghasilkan temuan cadangan berukuran kecil. Indonesia butuh belanja modal besar untuk menemukan lapangan sekelas Rokan, Cepu, atau Mahakam.
"Kalau tidak investasi besar, kita cuma akan ketemu ikan-ikan kecil kalau masih nggak ada big fish. Kita nggak akan ketemu Rokan, nggak akan ketemu Cepu, nggak akan ketemu Mahakam kalau investasi kita nggak eksponensial juga bergerak naik," jelasnya.
Peningkatan investasi hingga dua kali lipat pun disebut bukan hal mustahil jika kondisi keekonomian proyek mendukung. "Kalau perlu kita double up investasi," tegas Bayu.
Penutup: Arah belanja modal PHE mencerminkan tekanan ganda yang dihadapi kontraktor migas dalam negeri: menahan penurunan produksi lapangan tua sekaligus memburu cadangan baru. Besarnya komitmen investasi tahun depan akan menjadi ujian bagi target produksi migas nasional dalam beberapa tahun ke depan.