KALIMANTAN TENGAH — Angkatan Laut AS harus kembali ke teknologi lama. Kapal induk keempat di kelas Ford, USS Doris Miller, dipastikan tidak akan memakai EMALS yang terpasang di tiga kapal induk pendahulunya. Perintah itu datang langsung dari Presiden Donald Trump, yang selama bertahun-tahun mengkritik sistem elektromagnetik tersebut sebagai teknologi yang terlalu rumit.
Kritik Trump dan Dampak ke Anggaran
Trump sudah lama mendorong penggantian EMALS. Saat mengunjungi USS Gerald R. Ford pada 2017, ia menyebut sistem ini sangat kompleks. "Anda harus menjadi Albert Einstein untuk memahaminya," katanya dalam wawancara dengan Time pada tahun yang sama. Ia juga menilai sistem uap memiliki tenaga yang lebih besar.
Keputusan ini dianggap aneh oleh kalangan militer. Mark Montgomery, pensiunan Angkatan Laut AS, menyebut langkah mundur ini tidak logis dan boros. "Akan sangat bodoh dan mahal untuk kembali menggunakan ketapel uap," ujarnya kepada Newsweek, Kamis (27/8/2026).
Perbandingan Teknologi: EMALS vs Ketapel Uap
Kedua sistem punya tugas serupa: mempercepat jet tempur dari nol hingga kecepatan lepas landas dalam jarak pendek di dek kapal. Namun cara kerjanya berbeda total.
EMALS memakai motor induksi linier yang memanfaatkan tenaga dari reaktor nuklir kapal untuk menghasilkan pulsa magnetik. Sistem ini mendorong pesawat lebih mulus, mengurangi keausan pada badan jet, dan memakai energi serta air jauh lebih sedikit. Kapal induk Tipe 003 Fujian milik China sudah memakai teknologi ini. Prancis juga dilaporkan akan mengadopsinya untuk kapal induk masa depan.
Ketapel uap bekerja dengan menyalurkan uap bertekanan tinggi ke silinder berisi piston di bawah dek. Piston yang terhubung ke shuttle peluncur ini menarik pesawat hingga meluncur. Teknologi ini sudah dipakai puluhan tahun, termasuk di kapal induk Charles de Gaulle milik Prancis yang menggunakan rancangan AS.
Biaya Perombakan dan Nasib Produksi
General Atomics, produsen EMALS, meminta keputusan ini dipertimbangkan ulang. Hampir separuh produksi untuk USS Doris Miller telah rampung. Kapal yang dijadwalkan diserahkan ke Angkatan Laut AS pada 2034 itu kini harus menunggu perombakan desain.
Meski EMALS sempat mengalami masalah awal, sistem ini kini dianggap lebih andal dan efisien. Operasionalnya butuh lebih sedikit personel, sehingga lebih murah dirawat dibanding ketapel uap. Keputusan Trump justru berpotensi menambah biaya yang sudah membengkak akibat penundaan pembangunan selama bertahun-tahun.