KALIMANTAN TENGAH — Reliance Industries, konglomerat milik miliarder Mukesh Ambani, resmi memasuki babak baru kecerdasan buatan (AI) untuk konsumen. Dalam rapat pemegang saham tahunan, Jumat (28/8) pekan lalu, perusahaan yang berbasis di Mumbai itu memperkenalkan sederet layanan AI yang akan tertanam langsung di jaringan telekomunikasi Jio. Langkah ini menempatkan Reliance sebagai pemain utama dalam perlombaan AI India, yang selama ini didominasi perusahaan Amerika Serikat dan China.
Jio Call Agent: Asisten AI di Setiap Panggilan
Produk paling menarik adalah Jio Call Agent. Ini bukan aplikasi biasa—ia adalah asisten AI yang bisa "ikut" dalam panggilan telepon. Cukup ucapkan "Hey Jio," maka asisten ini akan menulis transkrip percakapan, membuat ringkasan, dan menjalankan tugas seperti memesan taksi, memesan makanan, atau membuat reservasi restoran.
Yang membedakan Jio Call Agent dari layanan sejenis adalah cara distribusinya. Alih-alih menawarkan aplikasi terpisah yang harus diunduh, Reliance menyematkannya langsung ke infrastruktur jaringan telekomunikasi. Artinya, layanan ini menjadi fitur bawaan panggilan telepon, bukan aplikasi tambahan. Dengan basis pengguna Jio yang mencapai lebih dari 500 juta orang, langkah ini memberi Reliance keunggulan distribusi yang sulit ditandingi kompetitor.
MyJio AI dan TeleFrame: AI untuk Aplikasi dan Rumah Pintar
Reliance juga merilis versi AI dari aplikasi MyJio. Dengan perintah bahasa alami, pengguna bisa mengaktifkan eSIM, memilih paket roaming, atau melakukan tugas lain tanpa harus menyentuh menu rumit. Layanan ini dirancang untuk menyederhanakan interaksi pengguna dengan operator selulernya.
Untuk segmen rumah pintar, Reliance memperkenalkan TeleFrame. Perangkat tampilan rumah ini menggunakan agen AI untuk menampilkan informasi secara proaktif—peringatan cuaca, jadwal harian, pengingat rumah tangga—tanpa perlu diminta. Produk ini mirip dengan konsep ambient AI yang sedang dikembangkan Amazon lewat Alexa dan Google lewat Nest Hub.
Investasi Rp 1.815 Triliun dan Kemitraan dengan Raksasa Teknologi
Ambisi AI Reliance tidak main-main. Perusahaan mengumumkan investasi sebesar USD 110 miliar (sekitar Rp 1.815 triliun) untuk infrastruktur AI. Mereka juga telah menjalin kemitraan dengan Google, Meta, dan Nvidia untuk mengembangkan model dan pusat data. Pekan lalu, Reliance dan Meta mengumumkan kerja sama membangun pusat data AI di Gujarat, India barat.
"India tidak boleh menjadi konsumen AI yang dibuat di tempat lain. Kami harus menjadi pencipta, pengadopsi, dan pemimpin global dalam AI," ujar Ambani, 69 tahun, dalam pidatonya. Reliance Intelligence, divisi AI yang diluncurkan tahun lalu, mengembangkan aplikasi yang mendukung 22 bahasa daerah India.
IPO Jio Platforms dan Pertanyaan Privasi Data
Rapat pemegang saham juga membawa kabar besar bagi investor yang menunggu IPO Jio Platforms. Ambani mengatakan dewan direksi Jio Platforms telah menyetujui draf prospektus untuk penawaran umum perdana yang mencakup penerbitan saham baru hingga 270 juta lembar.
Namun, perluasan layanan AI ke panggilan telepon, aplikasi, dan rumah pintar juga memunculkan pertanyaan serius tentang penanganan data pengguna. Reliance menyatakan semua layanan beroperasi dengan persetujuan pengguna, tetapi tidak menjawab apakah data yang dihasilkan bisa digunakan untuk melatih model AI atau dibagikan dengan mitra teknologi. Ini menjadi isu penting di India, di mana regulasi perlindungan data pribadi masih dalam tahap pengembangan.
Tekanan untuk Mandiri di Tengah Ketergantungan AI Asing
Langkah Reliance terjadi di tengah tekanan besar bagi perusahaan India untuk membangun kemampuan AI sendiri. Selama ini, perusahaan India sangat bergantung pada model AI dan penyedia cloud asing. Pembatasan akses ke beberapa model terbaru Anthropic beberapa waktu lalu menunjukkan betapa rentannya ketergantungan itu—keputusan di luar negeri bisa langsung memengaruhi startup dan perusahaan yang membangun produk AI di India.
Reliance tidak sendirian. Tata Consultancy Services, Infosys, dan Adani Group juga memperluas inisiatif AI dan kemitraan dengan pemain global seperti Anthropic, Google, dan OpenAI. Namun, taruhannya paling tinggi bagi Reliance: perusahaan sedang mempersiapkan Jio untuk debut pasar saham yang sudah lama ditunggu, dan membutuhkan mesin pertumbuhan baru. Saham Reliance sendiri sudah turun sekitar 17% tahun ini.