SAMPIT — Rencana tersebut mengemuka dalam audiensi antara Bupati Kotim bersama Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan (MD-AHK) Kotim beberapa waktu lalu. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim, Ramadansyah, mengatakan bahwa pembahasan lebih matang akan dilakukan untuk menetapkan jadwal tetap kedua ritual tersebut.
“Bupati sudah menyampaikan bahwa kegiatan Tiwah dan Mamapas Lewu bisa dijadikan agenda daerah. Harapannya, mulai 2027 nanti dapat kita bahas dan ditetapkan secara lebih matang,” ujar Ramadansyah di Sampit, Selasa.
Potensi Jadi Agenda Budaya Terjadwal Pertama di Kalteng
Ramadansyah menilai Tiwah dan Mamapas Lewu memiliki karakteristik unik karena menggabungkan unsur adat, budaya, dan keagamaan. Ia menyebut potensi besar agenda ini untuk menjadi satu-satunya acara budaya dan keagamaan yang terjadwal secara tetap di Kalimantan Tengah.
“Ini bisa menjadi satu-satunya agenda budaya dan keagamaan yang terjadwal secara tetap di Kalimantan Tengah. Karena itu potensinya sangat besar untuk menarik wisatawan,” katanya.
Skema Pendanaan Berubah: Dari Hibah ke Program Daerah
Dengan masuknya Tiwah dan Mamapas Lewu ke agenda resmi pemerintah daerah, pendanaan tidak lagi bergantung pada hibah kepada kelompok adat tertentu. Skema baru akan menyalurkan dana melalui lembaga khusus seperti MD-AHK.
“Kalau sebelumnya kan hibah itu diberikan kepada kelompok adat yang melaksanakan ritual tersebut, namun kedepannya hibah itu bisa disalurkan lewat lembaga khusus contoh MD-AHK tadi,” jelas Ramadansyah.
Perubahan skema ini dinilai mempermudah penyusunan jadwal, promosi wisata, hingga pengintegrasian dengan program pengembangan pariwisata daerah yang selama ini terus diperkuat pemkab.
Promosi Lebih Mudah, Wisatawan Bisa Atur Jadwal Kunjungan
Kepastian jadwal tahunan menjadi kunci utama strategi promosi. Disbudpar Kotim optimistis wisatawan domestik maupun mancanegara akan lebih mudah merencanakan perjalanan ke Sampit untuk menyaksikan langsung prosesi adat tersebut.
“Kalau tanggalnya sudah tetap, promosi akan lebih mudah dilakukan. Wisatawan yang datang ke Kalimantan Tengah bisa sekaligus mengatur kunjungan ke Sampit untuk menyaksikan Tiwah maupun Mamapas Lewu,” lanjutnya.
Terintegrasi dengan Tanjung Puting dan Didukung Akses Udara Baru
Disbudpar Kotim juga mulai menyusun konsep wisata terintegrasi dengan daerah lain di Kalteng, salah satunya menghubungkan agenda budaya ini dengan destinasi wisata Tanjung Puting di Kabupaten Kotawaringin Barat. Kehadiran maskapai baru Super Air Jet yang melayani rute ke Sampit menjadi peluang tambahan untuk memudahkan mobilitas wisatawan.
Dampak Ekonomi: UMKM, Hotel, dan Transportasi Bakal Tergerak
Pemkab Kotim optimistis agenda budaya tahunan ini akan memberi dampak ekonomi luas bagi masyarakat, terutama pelaku UMKM, sektor jasa, transportasi, hingga usaha perhotelan. Ritual adat ini nantinya diharapkan tidak hanya menjadi simbol pelestarian budaya, tetapi juga ikon wisata yang melengkapi agenda besar daerah seperti Festival Habaring Hurung.
“Kalau kegiatan ini masuk agenda daerah dan dipromosikan secara besar-besaran, tentu akan berdampak pada sektor perhotelan, UMKM, transportasi, dan usaha masyarakat lainnya,” kata Ramadansyah.
Dalam pelaksanaannya nanti, pemerintah daerah tetap melibatkan MD-AHK sebagai pihak yang memahami tata cara ritual dan ketentuan adat. Ramadansyah menegaskan unsur adat dan keagamaan tidak dapat dipisahkan sehingga keterlibatan tokoh adat menjadi bagian penting agar prosesi tetap berjalan sesuai nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.