JAKARTA — Pasar mulai melihat keseriusan otoritas ekonomi Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Hal ini mendorong optimisme penguatan rupiah setelah mengalami tekanan dalam beberapa bulan terakhir.
“Saya memperkirakan rupiah masih berpotensi menguat menuju kisaran Rp17.500 per dolar AS pada pekan depan. Pasar mulai melihat bahwa otoritas ekonomi Indonesia bersedia mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan memulihkan kepercayaan investor,” kata Fakhrul dalam keterangannya, Senin.
Menurut dia, pergerakan rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp17.450 hingga Rp17.650 per dolar AS dengan kecenderungan menguat. Penguatan ini bukan sekadar sentimen jangka pendek, melainkan mulai ditopang oleh perbaikan ekspektasi terhadap kebijakan ekonomi nasional.
Tiga Langkah yang Menjadi Fondasi Penguatan
Fakhrul mencatat tiga langkah penting yang menjadi fondasi penguatan rupiah saat ini. Pertama, komitmen kuat otoritas moneter terhadap stabilitas nilai tukar melalui kenaikan suku bunga secara kumulatif sebesar 75 basis poin (bps). Langkah ini memberikan sinyal jelas bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritas utama sekaligus meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia.
Kedua, penyesuaian harga BBM, khususnya Pertamax. Meskipun tidak populer, kebijakan ini dinilai menunjukkan keberanian pemerintah melakukan penyesuaian demi menjaga keberlanjutan APBN.
Ketiga, efisiensi dan penyesuaian anggaran program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini dibaca pasar sebagai sinyal bahwa disiplin fiskal kembali menjadi prioritas.
“Pasar selama beberapa bulan terakhir menunggu bukti bahwa Indonesia bersedia melakukan normalisasi fiskal. Kini sinyal tersebut mulai terlihat. BI sudah bergerak melalui kenaikan suku bunga, sementara pemerintah mulai melakukan penyesuaian fiskal. Kombinasi inilah yang menjadi fondasi penguatan rupiah,” jelas Fakhrul.
Rupiah Jadi Mata Uang dengan Penguatan Terbesar Kedua di Asia
Respons pasar terhadap perubahan kebijakan mulai terlihat nyata. Pada pekan lalu, rupiah mencatatkan penguatan terbesar kedua di Asia setelah won Korea Selatan. Jika normalisasi fiskal terus berlanjut dan konsistensi kebijakan terjaga, Fakhrul melihat peluang rupiah menjadi salah satu mata uang dengan penguatan terbaik di kawasan pada pekan ini cukup terbuka.
Faktor Global: Perdamaian AS-Iran Bisa Dongkrak Sentimen
Selain faktor domestik, perkembangan geopolitik global juga berpotensi memberikan momentum positif bagi rupiah. Fakhrul menilai membaiknya hubungan Amerika Serikat dan Iran serta meningkatnya peluang tercapainya kesepakatan permanen akan membantu menurunkan premi risiko global.
“Apabila proses perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran terus bergerak ke arah yang positif, maka momentum penguatan rupiah dapat menjadi semakin kuat. Risiko geopolitik yang menurun biasanya akan mendorong investor kembali masuk ke aset-aset emerging markets, termasuk Indonesia,” pungkas Fakhrul.