Dreambeans diperkenalkan sebagai aplikasi yang memberikan "koleksi cerita personal setiap pagi" dengan menghubungkan data dari Gmail, Kalender, Google Foto, YouTube, dan riwayat pencarian pengguna. Setiap pagi, aplikasi ini akan menampilkan daftar "cerita" yang merujuk pada agenda di kalender, notifikasi pengiriman dari surel, hingga peringatan ulang tahun foto lama.
Antarmuka Buku Harian yang Menyembunyikan Agenda Iklan
Dengan estetika gambar tangan yang sengaja dibuat seperti buku harian, Dreambeans mengundang pengguna untuk menggulir layar seperti di TikTok. Setiap cerita bisa diketuk untuk dieksplorasi lebih dalam.
Namun jurnalis teknologi senior yang mengulas aplikasi ini menemukan pola yang mengkhawatirkan. Hampir semua aksi yang disarankan oleh Dreambeans berujung pada ajakan membeli sesuatu.
Iklan Tersamar di Balik Setiap Saran
Dalam video peluncuran resmi, Google memperlihatkan contoh saran aplikasi: perjalanan ke Prancis bersama ibu disarankan untuk "pesan meja di restoran ini"; saldo toko yang tersimpan disarankan untuk "jelajahi barang yang direkomendasikan"; ulang tahun teman disarankan untuk "cari ide kado berkemah".
"Saya terkesan dengan keberanian Google yang begitu gamblang dengan tujuannya untuk Dreambeans," tulis pengulas tersebut. "Saya mengharapkan sesuatu yang tidak berguna, tapi Google malah membuat jelas bahwa Dreambeans adalah cara lain untuk menyampaikan iklan bersponsor."
Ilustrasi AI yang Mengorbankan Kenyamanan Emosional
Google mengklaim setiap cerita di Dreambeans akan diilustrasikan dengan gambar buatan AI yang dipersonalisasi, termasuk wajah orang-orang terdekat pengguna. Namun alih-alih menampilkan foto asli yang bisa memicu respons emosional, pengguna justru disuguhi "rendisi tanpa jiwa" dari wajah kerabat mereka.
"Jika tujuan aplikasi ini adalah 'mencakup hal-hal yang paling berarti', maka aplikasi ini sudah gagal sejak awal," tulis sang jurnalis.
Eksperimen Labs yang Tidak Layak Dilanjutkan
Dreambeans saat ini masih berada di Google Labs, status yang menurut pengulas sudah tepat. Aplikasi ini dinilai sebagai eksperimen untuk menguji apakah Google bisa menyajikan aplikasi buatan AI sepenuhnya yang menyajikan iklan bertarget.
Pengamat menilai aplikasi ini tidak akan bertahan lama. "Saya rasa aplikasi ini akan mati dengan tenang sebelum menjangkau audiens yang lebih luas," tulisnya. "Tapi saya ingin Google tahu bahwa eksperimen semacam ini persis seperti yang tidak kami inginkan."
Alih-alih membuat aplikasi yang menginvasi data pribadi, Google disarankan untuk fokus mengembangkan alat yang benar-benar berguna seperti NotebookLM.