KALIMANTAN TENGAH — Recall ini diumumkan Toyota pekan lalu dan menyasar C-HR EV generasi terbaru yang baru masuk lineup elektrik Toyota di AS. Jumlahnya sekitar 10.000 unit, semuanya model year 2026. C-HR sendiri belum dijual di Meksiko, jadi populasi recall praktis mencakup hampir semua unit yang sudah beredar di Amerika Utara.
Menurut pernyataan resmi Toyota, masalahnya bukan pada komponen mekanis, melainkan pada logika software yang mengatur pengereman regeneratif.
Saat baterai berada di level pengisian tinggi, sistem pengereman regeneratif seharusnya mengurangi laju pengisian atau mengalihkan energi ke sistem lain. Bug software membuat fungsi ini tetap mengisi daya melebihi batas aman.
Akibatnya, Battery Electric Vehicle Electronic Control Unit bisa memicu shutdown pada sistem penggerak listrik. Tenaga ke roda hilang begitu saja. Toyota menyebut kondisi ini, terutama di kecepatan tinggi, meningkatkan risiko kecelakaan.
Ini jenis kegagalan yang jarang dibahas di brosur EV. Pengemudi tidak mendapat peringatan bertahap, melainkan langsung kehilangan dorongan tenaga.
Angka 10.000 unit di Amerika Utara terdengar besar untuk model yang baru dijual. Hingga akhir Agustus, Toyota mencatat 6.321 unit C-HR terjual di AS. Angka penjualan Kanada belum tersedia resmi, tapi totalnya diperkirakan melengkapi populasi recall.
Artinya, hampir setiap C-HR EV yang saat ini ada di jalan masuk dalam cakupan perbaikan. Pemilik tidak perlu menunggu kerusakan muncul untuk datang ke diler.
Toyota akan mengirim notifikasi ke pemilik kendaraan terdampak pada awal November. Setelah itu, pemilik diminta membawa C-HR ke diler Toyota untuk pembaruan software pada unit kontrol elektronik kendaraan listrik.
Tidak ada penggantian part fisik dalam recall ini. Prosesnya relatif singkat dan tidak berbiaya bagi pemilik.
Dokumen resmi ke National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) belum diajukan saat pengumuman ini keluar. Artinya, detail teknis final soal kode recall dan jadwal resmi masih menunggu filing tersebut.
Sepanjang 2026, Toyota memperluas jajaran SUV listriknya di AS. bZ4X di-refresh dan namanya dipangkas jadi bZ, lalu ada bZ Woodland yang lebih bergaya wagon, dan C-HR yang posisinya lebih kompak.
Recall ini menjadi catatan pertama untuk C-HR EV sejak peluncurannya. Bagi calon pembeli di pasar lain, termasuk Indonesia, belum ada informasi apakah unit yang dijual di sini berasal dari batch produksi yang sama.
Bagi pemilik C-HR EV di AS dan Kanada, langkah paling aman adalah menunggu surat resmi Toyota dan menjadwalkan kunjungan ke diler setelah notifikasi turun. Jangan tunda, karena hilangnya tenaga penggerak tanpa peringatan bukan gejala yang bisa diabaikan.