KALIMANTAN TENGAH — Data terbaru China Passenger Car Association (CPCA) yang dirilis Rabu (9/9) menunjukkan kondisi pasar yang kontras bagi Tesla di China. Produsen mobil asal Amerika Serikat itu hanya mampu menjual 50.047 unit secara ritel pada Agustus 2026, turun dari 57.152 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka ini sekaligus memutus tren positif bulanan. Dibandingkan Juli 2026 yang mencatat 27.249 unit, penjualan Agustus sebenarnya naik signifikan 83,7 persen. Namun secara tahunan, performa ini menjadi sinyal perlambatan permintaan pasar mobil listrik China yang semakin kompetitif.
Cerita berbeda datang dari lini produksi Gigafactory Shanghai. Pada Agustus 2026, pabrik tersebut mengirimkan 36.119 kendaraan ke luar negeri. Capaian ini menandai pertumbuhan ekspor tahunan delapan bulan berturut-turut, naik 38,7 persen dibandingkan Agustus 2025.
Meski begitu, volume ekspor tersebut turun 45,6 persen dari Juli 2026 yang sempat mencetak rekor 66.330 unit. Fluktuasi ini umum terjadi karena pengiriman ekspor biasanya dilakukan secara bertahap menyesuaikan jadwal kapal.
Persaingan ketat dari merek lokal seperti BYD dan NIO mulai menggerus dominasi Tesla. Pangsa pasar ritel Tesla untuk kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) di China tercatat 7,2 persen pada Agustus 2026, turun dari 8,3 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Padahal, pasar BEV China secara keseluruhan masih tumbuh. Total penjualan ritel BEV pada Agustus 2026 mencapai 698.000 unit, naik sekitar 1,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Artinya, penurunan penjualan Tesla terjadi di tengah pasar yang masih ekspansif.
Jika menggabungkan penjualan domestik dan ekspor, Tesla China membukukan angka grosir 86.166 kendaraan pada Agustus 2026. Volume ini naik 3,6 persen secara tahunan, tetapi turun 7,9 persen dibandingkan Juli 2026.
Secara akumulatif selama delapan bulan pertama 2026, kondisi pasar domestik dan ekspor menunjukkan arah yang berbeda:
Strategi Tesla menjadikan Shanghai sebagai hub ekspor utama untuk pasar Eropa dan Asia Tenggara mulai membuahkan hasil. Namun, tekanan di pasar domestik China menunjukkan bahwa perang harga dan inovasi produk dari kompetitor lokal masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Elon Musk.