KALIMANTAN TENGAH — Tekanan kompetisi dari pabrikan China memaksa Honda melakukan efisiensi besar-besaran. Dokumen internal perusahaan yang dikutip Reuters pada Rabu (2/9) menyebutkan, raksasa otomotif Jepang ini meminta para pemasok menekan biaya produksi secara drastis dalam empat tahun ke depan.
Dua sumber yang mengetahui langsung rencana tersebut mengatakan, manajemen Honda telah bertemu pemasok utama di Utsunomiya pada musim semi tahun ini. Targetnya jelas: pemangkasan biaya 30 persen untuk komponen pres dan tempa, komponen elektrikal, serta komponen software-defined vehicle (SDV).
Honda membidik penghematan total 1,5 triliun yen atau sekitar Rp169,2 triliun hingga 2030. Secara global, angka efisiensi yang dikejar bahkan melampaui US$9 miliar atau setara Rp158,7 triliun. Juru bicara Honda menolak mengonfirmasi detail target tersebut, namun menyebut perusahaan tengah bekerja sama dengan pemasok untuk menstandarkan komponen.
Instruksi kepada pemasok tingkat pertama cukup spesifik. Mereka diminta meninjau ulang metode pengadaan material, beralih ke komponen standar dari pemasok tingkat kedua dan ketiga, serta memperluas penggunaan komponen buatan China. "Target pemangkasan biaya itu sangat besar," ujar salah satu sumber, seraya menambahkan bahwa belum jelas apakah target tersebut realistis untuk dicapai.
Langkah efisiensi ini tak lepas dari kinerja bisnis mobil Honda yang sedang tertekan. Perusahaan memperkirakan kerugian terkait kendaraan listrik (EV) bakal menembus US$12 miliar atau sekitar Rp211,7 triliun. Ini menjadi salah satu pukulan terbesar di antara produsen mobil global.
Mei lalu, Honda mencatat rugi tahunan pertama sejak tercatat sebagai perusahaan publik. Kondisi itu membuat perusahaan mengalihkan fokus sementara ke mobil hybrid bensin-listrik sambil merampungkan arsitektur kendaraan berbasis software.
Di tengah tekanan biaya, Honda dan Nissan tetap melanjutkan pengembangan bersama unit kontrol elektronik standar untuk kendaraan berbasis software. Arsitektur itu ditargetkan meluncur mulai tahun fiskal 2029, meski pembicaraan merger kedua perusahaan telah berhenti tahun lalu.
CEO Honda Toshihiro Mibe sendiri baru saja memenangkan dukungan pengangkatan kembali ke dewan direksi pada Juni lalu. Keputusan itu diambil di tengah tekanan dari mantan eksekutif terkait kinerja perusahaan.
Selain gempuran China, Honda juga menghadapi tarif impor Presiden AS Donald Trump, kenaikan biaya tenaga kerja, dan kebutuhan investasi riset yang terus membesar seiring meningkatnya kompleksitas teknologi kendaraan. "Situasi saat ini tidak ada ruang untuk penundaan," tegas sumber lainnya.