Sebanyak 2.037 titik panas terdeteksi di enam kecamatan di Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, sepanjang Januari–Agustus 2026. Puncaknya terjadi pada Agustus dengan 1.938 titik, terbanyak di Kecamatan Dusun Hilir. Pemkab setempat mengerahkan 200 personel gabungan untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta kekeringan.
BUNTOK — Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, mencatat 2.037 titik panas (hotspot) dalam periode 1 Januari hingga 30 Agustus 2026. Titik-titik api itu tersebar di enam kecamatan dan menjadi peringatan dini meluasnya kebakaran hutan dan lahan.
Puncaknya terjadi pada Agustus dengan 1.938 titik, atau 95,14 persen dari total hotspot. Konsentrasi terbesar berada di Kecamatan Dusun Hilir yang mencapai 877 titik atau 43,03 persen.
Gambaran ini disampaikan Bupati Barito Selatan Eddy Raya Samsuri dalam rapat evaluasi pencegahan dan penanganan Karhutla tingkat Provinsi Kalimantan Tengah di Palangka Raya, Kamis. Dia mengakui bahwa hampir seluruh titik api datang secara bersamaan di tengah kemarau.
Kondisi itu memaksa pemerintah daerah bergerak cepat. Pemkab membentuk tim gabungan berisi 200 personel untuk penanganan Karhutla dan kekeringan secara terpadu serta lintas sektor.
"Tim gabungan ini mengutamakan kecepatan respons, efektivitas pemadaman, keselamatan personel dan masyarakat, serta mencegah meluasnya kejadian Karhutla," ujar Eddy Raya.
Tim bekerja di bawah komando terpadu. Setiap laporan dari lapangan ditindaklanjuti dengan patroli dan pemadaman dini sebelum api membesar.
Pemantauan titik panas dilakukan setiap hari menggunakan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Hasilnya langsung disebar ke jajaran di tingkat kecamatan dan desa.
Data hotspot tersebut diteruskan kepada:
Mereka bertugas melakukan verifikasi lapangan, patroli, dan penanganan awal ketika muncul indikasi titik api.
Eddy Raya menyebut mekanisme itu menjadi sistem peringatan dini. Setiap indikasi kebakaran diharapkan segera dikendalikan sebelum meluas.
Pemkab Barito Selatan terus memperkuat upaya pencegahan, deteksi dini, pemadaman, pendinginan, serta patroli. Penanganan warga terdampak juga menjadi bagian dari strategi tersebut.
"Dari semua itu, kami berharap penanganan Karhutla di Barsel dapat terus ditingkatkan serta memberikan kontribusi nyata dalam mendukung Program Kalimantan Tengah Bebas Asap Tahun 2026," kata Eddy Raya.
Sinergi antarinstitusi disebut menjadi kunci utama mempercepat respons di lapangan. Keamanan personel dan warga tetap menjadi pertimbangan pertama dalam setiap operasi pemadaman.