KUALA PEMBUANG — Debit air yang menurun bukan satu-satunya persoalan yang dihadapi warga di hilir Kabupaten Seruyan pada musim kemarau tahun ini. Air laut yang menyusup ke daratan ikut mencemari sumur-sumur warga, membuat sumber air yang tersedia tidak layak konsumsi.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Seruyan mencatat persoalan ini tersebar di sejumlah desa yang berada di sepanjang aliran Sungai Seruyan. Wilayah dengan topografi pasang surut ini disebut paling rentan ketika volume air sungai menyusut drastis di musim kemarau.
Bupati Seruyan Ahmad Selanorwanda menjelaskan, karakteristik sungai yang dipengaruhi pasang surut membuat dampak kemarau terasa lebih berat bagi masyarakat. Saat debit air menurun, air asin dari arah laut dengan mudah masuk ke sumber-sumber air darat yang selama ini dipakai warga.
"Kita ini di wilayah hilir yang kondisi sungainya pasang surut. Musim kemarau ternyata air surut dan air asin juga merembes ke sumur-sumur warga," jelas Wanda usai meninjau penyaluran air bersih di Desa Bangun Harja, Kecamatan Seruyan Hilir Timur, Rabu (2/9).
Kondisi ini memaksa warga mencari alternatif sumber air lain. Namun, di tengah puncak kemarau, ketersediaan air tawar yang layak menjadi barang langka.
Menanggapi situasi tersebut, Pemkab Seruyan mulai menginventarisasi desa dan wilayah yang mengalami persoalan serupa. Pendataan tidak hanya menyasar lokasi yang kekurangan air, tetapi juga memeriksa kualitas sumber air yang tersedia agar warga tidak terpaksa mengonsumsi air yang tercemar.
"Sekarang kondisi kering. Walaupun ada airnya, mungkin kondisi airnya tidak layak untuk dipergunakan. Oleh karena itu, kita menyediakan air bersih ke beberapa tempat," ujarnya.
Penyaluran air bersih dipastikan akan berlanjut dan jangkauannya diperluas berdasarkan temuan di lapangan. Pemerintah daerah tidak bekerja sendiri; sinergi dengan perusahaan swasta dan organisasi masyarakat disebut menjadi kunci untuk mempercepat penanganan kebutuhan air warga selama musim kemarau berlangsung.