KALIMANTAN TENGAH — Acer resmi memperkenalkan desktop Small Form Factor (SFF) RTX Spark secara global. Kehadirannya menandai langkah Acer untuk bersaing di segmen perangkat komputasi ringkas bertenaga tinggi yang selama ini jarang tersentuh.
Perangkat ini ditujukan bagi profesional yang membutuhkan performa setara workstation, tetapi memiliki keterbatasan ruang di meja kerja. Pesaing langsungnya mencakup Mac Studio dan Asus ProArt GR1X.
NVIDIA RTX Spark Superchip yang tertanam di perangkat ini mengintegrasikan GPU dengan 6.144 CUDA Core. Jumlah inti tersebut berada di antara GPU laptop GeForce RTX 5070 Ti dan RTX 5080 dalam hal kekuatan pemrosesan paralel.
Untuk memori, Acer membekali perangkat ini dengan unified memory hingga 128 GB. Kapasitas sebesar ini memungkinkan pemrosesan data dalam jumlah besar tanpa perlu transfer data berulang antara CPU dan GPU.
Acer mengisyaratkan bakal ada varian RTX Spark lain dengan konfigurasi 18-core. Hingga kini, perusahaan belum mengumumkan detail lengkap soal pilihan kapasitas memori dan spesifikasi prosesor untuk tiap varian.
Form factor-nya yang kecil membuat SFF RTX Spark cocok ditempatkan di meja dengan ruang terbatas. Acer merancangnya agar mudah dipindahkan tanpa mengorbankan kemampuan komputasi.
Dari sisi konektivitas, perangkat ini menyediakan satu port HDMI dan satu port Ethernet RJ45 untuk koneksi jaringan kabel. Tersedia pula empat port USB Type-C yang sekaligus berperan sebagai sumber daya perangkat.
Kombinasi unified memory besar dan GPU terintegrasi dengan ribuan CUDA Core membuat SFF RTX Spark menarik untuk beban kerja berat seperti rendering, simulasi, dan pengembangan model AI. Namun, kemampuan aktualnya baru bisa dinilai setelah Acer merilis spesifikasi lengkap dan hasil pengujian performa.
Acer belum mengumumkan harga maupun jadwal ketersediaan SFF RTX Spark. Jika banderolnya kompetitif, perangkat ini berpotensi menarik minat pengguna yang selama ini mengandalkan Mac Studio atau workstation rakitan untuk kebutuhan komputasi intensif.