Karhutla di Kotim Meluas, PT Maju Aneka Sawit Kerahkan Helikopter dan Bantuan Alat ke 4 Desa

Penulis: Oki Setiawan  •  Rabu, 02 September 2026 | 12:25:32 WIB
Helikopter water bombing milik PT Maju Aneka Sawit diterjunkan untuk memadamkan titik api karhutla di areal yang sulit dijangkau tim darat di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

PT Maju Aneka Sawit (PT MAS) meningkatkan dukungan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, dengan mengerahkan helikopter water bombing dan regu pemadam ke desa-desa sekitar areal perusahaan. Karhutla di wilayah itu berlangsung lebih dari satu bulan dan eskalasinya cenderung meningkat.

SAMPIT — PT Maju Aneka Sawit (PT MAS) meningkatkan dukungan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, dengan mengerahkan helikopter water bombing serta regu pemadam ke desa-desa sekitar areal perusahaan. Karhutla di wilayah itu telah berlangsung lebih dari satu bulan dan eskalasinya cenderung meningkat.

Sejak 8 Juli 2026, perusahaan menerjunkan regu pemadam kebakaran ke empat desa, yaitu Tanah Putih, Penyang, Tangar, dan Hanjalipan. Mobil pemadam dengan berbagai sarana pendukung dikerahkan, ditambah alat berat untuk membuat sekat bakar guna melokalisasi titik api agar kebakaran tidak semakin meluas.

"Kami berusaha semaksimal mungkin untuk terus membantu penanganan karhutla dengan seluruh sumber daya yang kami miliki. Kami berkomitmen untuk bersama-sama mengatasi hingga masalah karhutla ini selesai," kata General Manager PT Maju Aneka Sawit, Rusli Salim.

Helikopter Dikerahkan untuk Titik Api yang Sulit Dijangkau

Untuk memperluas jangkauan pemadaman, PT MAS menerjunkan helikopter water bombing. Air dijatuhkan langsung ke titik kebakaran yang sulit dijangkau tim darat atau berada jauh dari sumber air, sehingga proses pemadaman diharapkan lebih cepat dan efektif.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi gabungan darat-udara dalam mengendalikan karhutla di Kotim, terutama di area yang tidak bisa dilewati kendaraan pemadam.

Pencegahan Dimulai Jauh Sebelum Kemarau

Upaya perusahaan tidak hanya saat kebakaran terjadi. Sosialisasi mengenai bahaya, pencegahan, dan penanganan karhutla digelar rutin dua kali setahun, lengkap dengan simulasi pemadaman lahan. Kegiatan melibatkan BPBD, Disdamkarmat, Dinas Lingkungan Hidup, BKSDA, Manggala Agni, Polri, TNI, serta Regu Pemadam Kebakaran Masyarakat Bebas Api (MBA) dari desa-desa sekitar.

"Melalui kegiatan ini, kami ingin menyamakan persepsi sekaligus membangun kesiapsiagaan bersama dalam rangka mencegah dan menangani karhutla. Kami merangkul dan membina desa-desa sekitar perusahaan untuk bersama-sama melakukan upaya tersebut karena menjaga kelestarian lingkungan hidup merupakan tanggung jawab kita bersama," jelas Rusli.

Manajemen juga memasang plang dan spanduk imbauan di sejumlah titik strategis. Pesannya tegas: karhutla menimbulkan kerugian bagi semua pihak, dan ada konsekuensi hukum bagi yang sengaja membakar lahan.

Patroli Bersama Warga dan Pembagian Masker

Selain imbauan formal, sosialisasi dilakukan secara personal dalam berbagai kesempatan. Perusahaan membagikan masker untuk mencegah gangguan kesehatan akibat asap, dan menjalin kerja sama dengan warga untuk melaksanakan patroli api di Desa Tanah Putih.

"Kami juga menjalin kerja sama dengan masyarakat untuk melaksanakan patroli api sebagai bentuk pengamanan dan pengawasan di wilayah Desa Tanah Putih," tambah Rusli.

Dukungan CSR: Bantuan Alat dan Air Bersih

Lewat program Corporate Social Responsibility (CSR), PT MAS memberikan bantuan berupa alat pemadam kebakaran, tandon air, selang, dan mesin air kepada desa-desa sekitar. Bantuan ini mendukung pemadaman karhutla sekaligus kebutuhan distribusi air bersih bagi masyarakat.

Komitmen bersama dengan desa-desa sekitar perusahaan menjadi kunci sinergi yang diharapkan mampu menekan meluasnya karhutla di Kotim sepanjang musim kemarau ini.

Reporter: Oki Setiawan
Sumber: kalteng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top