Ratusan warga Barito Utara, Kalimantan Tengah, berkumpul di halaman Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat pada Ahad untuk melaksanakan shalat Istisqa, memohon turunnya hujan di tengah kemarau panjang yang memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bupati Barito Utara Shalahuddin memimpin langsung ibadah tersebut bersama jajaran Forkopimda, Kepala Kantor Kementerian Agama, Ketua MUI KH Rusmadi Darsani, para habib, alim ulama, serta ratusan jamaah dari berbagai kecamatan.
MUARA TEWEH — Langit cerah tanpa awan menyambut ribuan umat Muslim yang berbaris rapi di halaman kantor Bupati Barito Utara. Mereka datang bukan sekadar menunaikan ibadah sunah, melainkan membawa harapan besar agar Allah SWT segera mengirimkan air dari langit. Kondisi kemarau yang melanda wilayah itu selama beberapa pekan terakhir telah mengeringkan tanah, menurunkan debit sungai, dan meningkatkan titik api di sejumlah desa.
Dalam khutbahnya, Bupati Shalahuddin menegaskan bahwa shalat Istisqa adalah bentuk pengakuan atas keterbatasan manusia. "Hari ini kita datang bukan dengan kesombongan, bukan pula dengan merasa bahwa kita memiliki segala daya dan kemampuan. Kita datang dengan hati yang tunduk, tangan yang terangkat dan doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT," ujarnya di hadapan jamaah.
Shalahuddin menyebut dampak kemarau panjang tidak hanya dirasakan petani yang kesulitan mengairi sawah, tetapi juga mengancam keselamatan warga akibat kabut asap. Ia mengingatkan bahwa kebakaran yang terjadi di lahan kering dapat meluas dengan cepat, mengganggu aktivitas masyarakat, kesehatan, transportasi, hingga pendidikan.
"Kebakaran yang terjadi pada kondisi alam yang kering dapat dengan cepat meluas. Asap yang ditimbulkan juga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, kesehatan, transportasi, pendidikan, perekonomian serta kualitas kehidupan masyarakat," kata Shalahuddin dalam sambutannya.
Momentum shalat Istisqa ini, lanjut Shalahuddin, menjadi waktu yang tepat bagi seluruh elemen masyarakat untuk bermuhasabah dan memperbanyak istighfar. Ia mengajak warga memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, sesama manusia, dan lingkungan sekitar.
Pemkab Barito Utara juga menginstruksikan warga untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Laporan titik api harus segera disampaikan kepada aparat desa, kepolisian, atau instansi berwenang. Larangan serupa berlaku untuk membuang puntung rokok di sembarang tempat, terutama di kawasan yang rawan kekeringan.
Ketua MUI Barito Utara, Rusmadi Darsani, dalam khutbahnya menekankan pentingnya introspeksi diri di tengah ujian kekeringan ini. Ia berharap ibadah yang dilakukan ribuan jamaah tersebut diijabah Allah SWT, sehingga hujan yang turun membawa berkah, bukan bencana.
"Harapannya apa yang kita laksanakan ini benar-benar diijabah dan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Daerah kita diberikan hujan yang cukup, membawa berkah dan rahmat dari sisi Allah, dan kebakaran lahan serta hutan yang menimbulkan asap dan mengganggu aktivitas masyarakat juga diangkat oleh Allah," ujar Rusmadi.
Selain memohon hujan, doa bersama juga dipanjatkan untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Barito Utara. Shalahuddin berharap hujan yang turun nantinya mampu membasahi tanah, mengisi kembali sumber-sumber air, menyuburkan tanaman, serta membantu memadamkan titik-titik api yang masih menyala di sejumlah lokasi.