Duka melanda jajaran Pemerintah Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah. Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian, Farid Fathur Rahman (46), meninggal dunia pada Jumat (28/8) sore akibat serangan jantung mendadak, bukan karena terjun langsung dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seperti yang sempat beredar di media sosial.
SAMPIT — Camat Pulau Hanaut, Fahrujiansyah, memastikan bahwa almarhum Farid Fathur Rahman wafat murni karena penyakit jantung yang dideritanya. Ia meluruskan informasi yang berkembang di masyarakat yang mengaitkan kepergian almarhum dengan aktivitas penanganan karhutla di wilayah setempat.
"Yang bersangkutan meninggal dunia karena serangan jantung. Untuk kegiatan karhutla, almarhum hanya melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya karhutla dan berkoordinasi dengan mitra kerja," kata Fahrujiansyah di Sampit, Sabtu.
Fahrujiansyah menuturkan, kondisi kesehatan Farid sebenarnya sudah mulai menurun beberapa pekan terakhir. Saat menghadiri acara di kantor kecamatan menjelang peringatan 17 Agustus, almarhum sempat mengeluhkan sakit dada dan suhu badannya terasa dingin saat menyeberang dari Kecamatan Mentaya Hilir Selatan menuju Pulau Hanaut.
"Ketika kami akan menyeberang, yang bersangkutan tampak seperti mabuk kendaraan, suhu badannya dingin dan mengeluhkan sakit dada," kisahnya.
Meski demikian, Farid tetap melanjutkan perjalanan untuk mengikuti kegiatan. Setelah itu, ia hampir sepekan tidak masuk kerja. Ia sempat kembali bertugas, namun karena kondisinya belum pulih, Camat memintanya untuk beristirahat di rumahnya di Sampit.
Pada Jumat pagi, almarhum masih terlihat sehat dan sempat membelikan makanan untuk anaknya yang akan mengikuti acara Maulid. Namun menjelang sore, ia mengalami serangan jantung secara tiba-tiba di rumahnya di Jalan Nyai Enat, Sampit, sekitar pukul 15.30 WIB.
"Kejadian ini mendadak sehingga yang bersangkutan tidak sempat dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis," ujar Fahrujiansyah.
Meski tidak turun langsung ke lapangan untuk operasi pemadaman, kontribusi Farid dalam upaya pencegahan karhutla di Kecamatan Pulau Hanaut tetap signifikan. Tugasnya meliputi sosialisasi kepada masyarakat serta koordinasi dengan berbagai pihak terkait.
Koordinasi tersebut dilakukan dengan mitra kerja Kecamatan Pulau Hanaut, PT Rimba Makmur Utama (RMU), serta posko RSA Babaung untuk memantau informasi titik panas atau hotspot. "Pada saat itu memang ada satu titik hotspot di Desa Babirah," sebutnya.
Jenazah Farid Fathur Rahman telah dimakamkan pada Sabtu (29/8) sekitar pukul 08.15 WIB di lingkungan sekitar tempat tinggalnya di Sampit.
"Kami dari keluarga besar Kecamatan Pulau Hanaut sangat kehilangan atas kepergian beliau. Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya dan memohon agar almarhum diampuni segala kesalahannya, diterima seluruh amal ibadahnya, serta mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT," demikian Fahrujiansyah.