SAMPIT — Efektivitas penanganan karhutla di Kabupaten Kotawaringin Timur tahun ini menghadapi kendala logistik. BPBD Kotim hanya memiliki persediaan dua jeriken zat tambahan (aditif) yang dicampurkan ke air untuk mempercepat pemadaman, khususnya di lahan gambut.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan zat tersebut merupakan sisa bantuan tahun 2025. Dengan stok yang ada, pihaknya hanya bisa menggunakannya untuk sekitar dua kali operasi pemadaman di lapangan.
Multazam menjelaskan, campuran zat aditif ini bekerja dengan meningkatkan filtrasi air. Air lebih cepat meresap ke dalam pori-pori tanah sehingga bisa menjangkau bara api di lapisan bawah gambut yang selama ini sulit dipadamkan dengan penyiraman biasa.
"Kalau ada zat tambahan untuk pemadaman ini sebenarnya kita bisa hemat 30 sampai 35 persen, baik dari sisi waktu, kemudian sumber daya, bahan bakar tentunya nanti," kata Multazam, Jumat (28/8/2026).
Dengan proses resapan yang lebih cepat, api yang membara di dalam tanah bisa segera dipadamkan. Ini membuat operasi di lapangan menjadi lebih singkat dan tidak boros konsumsi air maupun solar untuk mobil pemadam.
Karena stok yang terbatas, BPBD tidak bisa menyemprotkan zat tersebut di semua lokasi kebakaran. Penggunaannya akan diprioritaskan untuk titik-titik karhutla yang berada dekat dengan permukiman warga dan membutuhkan penanganan cepat.
"Nanti satu tangki kita coba taruh itu di unit itu, bisa dipergunakan pada saat-saat seperti ini," ujarnya.
Skema yang disiapkan adalah menempatkan satu unit kendaraan pemadam yang tangkinya sudah tercampur zat aditif. Unit ini akan disiagakan untuk merespons cepat jika ada laporan api yang mengancam pemukiman.
BPBD Kotim tidak tinggal diam dengan keterbatasan ini. Mereka terus menjalin komunikasi dengan Daops Manggala Agni untuk mengajukan tambahan pasokan zat aditif melalui Kementerian Kehutanan.
"Kalau penelitiannya sudah membuktikan, nanti kita lihat ketersediaan. Karena ketersediaan ini juga jangan sampai bahan itu habis, sementara kebutuhan masih ada. Kami masih melakukan komunikasi lagi dengan teman-teman Daops Manggala Agni. Mudah-mudahan dapat bantuan lagi dari Kementerian Kehutanan," ungkap Multazam.
Sebelum digunakan secara luas, BPBD berencana melakukan uji coba ulang untuk memastikan efektivitas zat tersebut di lapangan. Hasil uji coba ini nantinya menjadi dasar pengajuan kebutuhan logistik yang lebih akurat untuk musim kemarau mendatang.