KALIMANTAN TENGAH — Menonton "Out of Time" di tengah musim panas terasa pas, bukan karena cuacanya, tapi karena atmosfer Florida yang panas dan lembap ikut terbawa ke layar. Film garapan Carl Franklin ini sering terlupakan dalam daftar film terbaik Denzel Washington, dan setelah menontonnya, alasannya jelas: film ini setengah hati. Separuh pertama adalah drama romantis yang membosankan, separuh lainnya adalah thriller kejahatan yang solid.
Denzel berperan sebagai Matt Whitlock, Kepala Polisi di Banyan Key, Florida. Ia baru saja berpisah dari istrinya, Alex (Eva Mendes), yang juga seorang detektif. Matt pun menjalin hubungan dengan Ann (Sanaa Lathan), mantan gebetan SMA yang kini terperangkap dalam pernikahan dengan suami yang kasar (Dean Cain).
Masalah dimulai ketika Ann mengaku kankernya kambuh dan hanya punya waktu enam bulan untuk hidup. Demi membiayai pengobatan eksperimental di Swiss, Matt nekat mengambil uang barang bukti narkoba senilai USD 485.000 (sekitar Rp 7,7 miliar). Keputusan ini menjadi bumerang ketika Ann tewas dalam kebakaran rumah—atau lebih tepatnya, pura-pura tewas. Ternyata Ann dan suaminya telah merancang skenario untuk menjebak Matt.
Bagian tersulit dari film ini adalah 45 menit pertama. Alih-alih langsung masuk ke konflik, penonton disuguhi adegan-adegan romansa yang terasa datar dan tidak penting. Karakterisasi yang dibangun terlalu lama, membuat fokus terpecah sebelum inti cerita dimulai. Jika kamu memutuskan menonton, bersabarlah—babak ini terasa seperti film yang berbeda dari keseluruhan paket.
Begitu Matt menyadari dirinya dijebak, film ini berubah total. Alurnya menjadi thriller kejar-kejaran yang menegangkan, di mana Matt harus membersihkan namanya sambil diuber oleh DEA, istrinya sendiri, dan pasangan penipu yang ternyata masih hidup. Denzel bermain di dua sisi: sebagai polisi yang melanggar hukum demi bertahan hidup, namun tetap punya niat baik yang keliru.
Kelebihan utama film ini ada di babak kedua. Namun, ada banyak momen "kebetulan" yang membuat Matt lolos dari jerat hukum. Jika kamu perhatikan, plot-nya sangat bergantung pada deus ex machina—kebetulan yang terlalu pas untuk kenyamanan. Meski begitu, tensi yang dibangun cukup kuat untuk membuatmu tetap menonton sampai akhir.
Denzel Washington tetap karismatik seperti biasa, meski materi yang diberikan tidak sekuat di "Training Day" atau "The Hurricane". Eva Mendes tampil meyakinkan sebagai istri yang cerdas dan penuh curiga. Sayangnya, naskah tidak memberi ruang bagi mereka untuk benar-benar bersinar. Tidak ada dialog yang buruk, tapi juga tidak ada momen yang benar-benar berkesan.
Jika harus memberi nilai, "Out of Time" layak dapat 2,5 dari 5 bintang. Babak pertamanya mungkin hanya 1 bintang, tapi babak kedua naik menjadi 3,5 bintang. Film ini bukan tontonan wajib, tapi karena bisa diakses gratis, tidak ada salahnya untuk mencoba. Cocok untuk kamu yang ingin mengisi akhir pekan tanpa biaya dan mencari tontonan thriller yang tidak terlalu berat.
Streaming "Out of Time" gratis (dengan iklan) di Tubi, Pluto TV, Fandango, Amazon, atau YouTube sekarang.