SAMPIT — Banyak warga yang datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit masih mengira bahwa pelayanan akan diberikan berdasarkan siapa yang lebih dulu tiba. Pemahaman ini keliru. RSUD Murjani di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, terus mengedukasi masyarakat bahwa sistem yang berlaku di IGD justru sebaliknya: pasien dengan kondisi paling gawatlah yang akan ditangani terlebih dahulu, bukan yang paling awal mendaftar.
Prinsip ini disebut triage, sebuah sistem pemilahan pasien berdasarkan tingkat kegawatan. Di IGD RSUD Murjani, setiap pasien yang masuk akan segera dinilai oleh perawat triage untuk menentukan kategori kondisinya. Pasien dengan henti jantung, gangguan napas berat, atau cedera parah masuk kategori resusitasi dan langsung mendapat penanganan tim medis. Sementara itu, pasien dengan luka ringan atau demam biasa harus bersabar menunggu giliran.
Kebijakan ini bukan tanpa alasan. Dalam situasi darurat, setiap detik sangat berharga. Jika tim medis sibuk menangani pasien non-gawat yang datang lebih awal, maka nyawa pasien kritis yang baru tiba bisa terancam. RSUD Murjani menegaskan bahwa sistem ini sudah menjadi standar nasional dan internasional di semua rumah sakit.
Pihak rumah sakit menyadari bahwa tidak semua warga paham dengan mekanisme ini. Banyak yang merasa kecewa atau bahkan marah saat melihat pasien lain yang datang belakangan justru dipanggil lebih dulu oleh perawat. Oleh karena itu, RSUD Murjani gencar melakukan sosialisasi, baik melalui poster di area IGD maupun penjelasan langsung dari petugas saat pendaftaran.
“Pasien atau keluarganya sering bertanya kenapa yang baru datang malah ditangani duluan. Kami jelaskan bahwa itu karena kondisinya lebih kritis,” ujar salah satu perawat IGD RSUD Murjani dalam keterangannya. Pemahaman ini diharapkan bisa mengurangi gesekan antara petugas medis dan pengantar pasien di lingkungan IGD.
RSUD Murjani berharap dengan pemahaman yang benar, warga Sampit dan sekitarnya bisa lebih kooperatif saat berobat ke IGD. Sistem ini bukan untuk membeda-bedakan pasien, melainkan untuk menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa dalam keterbatasan sumber daya.