PALANGKA RAYA — Ribuan pasang mata tertuju ke panggung utama di Bundaran Besar saat grup band Tipe-X membawakan sejumlah lagu hits mereka. Suasana semakin meriah ketika penonton ikut bernyanyi dan berjoget, mengakhiri rangkaian Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026 yang berlangsung meriah sejak pekan lalu.
Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah menyebut FBIM bukan hanya ajang pelestarian budaya. Agenda ini juga menjadi motor penggerak ekonomi kreatif dan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat.
Ratusan stan UMKM yang berjejer di sekitar lokasi acara kebanjiran pengunjung. Para pedagang mengaku omzet mereka meningkat drastis selama sepekan penyelenggaraan FBIM.
Sebelum konser, panggung utama lebih dulu diisi oleh puluhan penari yang membawakan tarian tradisional khas Dayak. Kostum warna-warni dan gerakan energik para penari berhasil memukau warga yang datang dari berbagai penjuru kota.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menargetkan FBIM bisa menjadi agenda tahunan yang masuk kalender wisata nasional. Pelestarian seni budaya lokal menjadi prioritas utama di tengah gempuran budaya populer.
Pantauan di lokasi, warga sudah mulai berdatangan sejak sore hari. Mereka rela duduk di trotoar dan pinggir jalan demi mendapatkan tempat terbaik menyaksikan pertunjukan.
Seorang warga Palangka Raya, Andri, mengaku sengaja datang sejak pukul 15.00 WIB bersama keluarga. "Ini acara tahunan yang paling ditunggu. Senang sekali budaya Dayak terus diangkat dan UMKM kita juga ikut maju," ujarnya.
FBIM 2026 resmi ditutup dengan doa bersama dan pelepasan lampion ke langit Palangka Raya. Rangkaian acara HUT ke-69 Kalimantan Tengah sendiri masih akan berlanjut dengan sejumlah kegiatan olahraga dan bakti sosial hingga akhir bulan ini.