SAMPIT — Sapi kurban presiden untuk Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tahun ini bukan sembarang sapi. Dari peternakan milik Syarif di Sampit, hewan bernama Rambo itu memiliki bobot hampir satu ton, melampaui standar minimal 900 kilogram yang ditetapkan untuk sapi kepresidenan.
Ini kali kedua Syarif mendapat amanah dari pihak kepresidenan untuk menyiapkan sapi kurban berukuran jumbo. Tahun lalu ia juga dipercaya untuk wilayah yang sama. “Rencananya sapi itu akan disalurkan ke Masjid Islamic Center Sampit,” kata Syarif di Sampit, Kamis.
Tak hanya untuk Kotim, Syarif juga diminta menyediakan sapi untuk Kabupaten Seruyan. Namun, pasokan untuk Desa Pembuang Hulu di Seruyan masih dalam proses pengadaan ulang. “Sapi di Pembuang Hulu belum mencapai bobot ideal di atas 900 kilogram, sehingga kami diminta menyediakan hewan pengganti,” bebernya.
Bobot Rambo yang hampir satu ton tidak terjadi secara kebetulan. Syarif menerapkan pola pakan intensif dengan kombinasi ampas tahu dan bungkil sawit—dua bahan lokal berprotein tinggi. “Nutrisi dari ampas tahu dan bungkil sawit itu sangat efektif mendongkrak bobot ternak,” ujarnya.
Sapi limosin asal Australia itu dibeli pada usia tiga tahun dengan berat 600 kilogram. Kini, di usia empat tahun, bobotnya meroket mendekati satu ton. Jenis sapi impor ini dikenal memiliki postur kokoh, tonase besar, dan harga jual stabil di kisaran Rp85 juta hingga Rp90 juta per ekor.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotim, Endrayatno, memastikan sapi ini telah melewati serangkaian pemeriksaan kesehatan ketat. Standar pemeriksaan sapi kurban presiden jauh lebih rinci dibanding umumnya.
“Kalau standar dari presiden itu yang pasti status kesehatannya, vaksinasinya sudah harus lengkap. Pemeriksaan klinis, kemudian biasanya kita lakukan juga pemeriksaan secara laboratorium. Jadi kita meyakini bahwa sapi itu benar-benar sehat,” ujar Endrayatno.
Meski berasal dari keturunan sapi impor, Endrayatno menjelaskan bahwa sapi tersebut sudah merupakan hasil budidaya dan persilangan yang dikembangkan di dalam negeri. Sapi limosin yang dipelihara peternak lokal umumnya masuk kategori turunan F1 atau F2.
“Jadi kita bisa anggap saja itu sudah sapi lokal. Kalau yang betul-betul sapi impor itu biasanya lebih agresif, karena sistem pemeliharaan di luar negeri itu kan sangat jarang ketemu dengan manusia,” kata Endra.
Penyeleksian sapi kurban presiden dilakukan langsung oleh Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah. Peternakan Syarif dipilih karena reputasinya dalam memelihara sapi berkualitas tinggi.