PALANGKA RAYA — Pelajar di Kota Palangka Raya dinilai sebagai kelompok rentan saat bencana terjadi. Anggota Komisi III DPRD setempat, Arif M Norkim, mendorong agar edukasi kesiapsiagaan bencana tidak berhenti di satu sekolah, melainkan diperluas ke seluruh institusi pendidikan di wilayah kota.
“Anak-anak perlu dibekali pengetahuan mengenai penyelamatan diri dan penggunaan jalur evakuasi sejak dini,” kata Arif di Palangka Raya, Jumat.
Menurut Arif, pembelajaran yang mudah dipahami menjadi kunci agar pelajar tidak panik saat menghadapi situasi darurat. Ia menyarankan metode edukatif digabung dengan simulasi langsung di sekolah.
“Dengan adanya simulasi dan pengenalan jalur evakuasi, anak-anak akan lebih siap dan tidak panik ketika menghadapi kondisi darurat,” ucapnya.
Politikus DPRD Palangka Raya itu menekankan bahwa kesiapsiagaan bencana harus menjadi perhatian bersama. Pembentukan budaya sadar bencana perlu dilakukan secara berkelanjutan agar pemahaman dasar tentang langkah penyelamatan diri tertanam sejak kecil.
“Kesiapsiagaan bencana harus menjadi perhatian bersama. Melalui edukasi sejak dini, kita berharap dapat meminimalkan risiko dan dampak saat bencana terjadi,” ujarnya.
Arif juga berharap pihak sekolah ikut mendukung program tersebut. Salah satu langkah konkret yang diminta adalah memastikan ketersediaan jalur evakuasi yang aman dan mudah diakses siswa.
“Sekolah juga perlu aktif mendukung kesiapsiagaan bencana agar lingkungan belajar menjadi lebih aman bagi para siswa,” demikian Arif.