KALIMANTAN TENGAH — Final Coppa Italia di Stadio Olimpico, Roma, pada Minggu malam (15/5) berubah menjadi satu arah. Inter Milan yang bertindak sebagai tim tamu langsung tancap gas dan memastikan kemenangan hanya dalam tempo 35 menit pertama. Dua gol cepat membuat perlawanan Lazio yang dilatih Maurizio Sarri (yang menjalani skorsing) terlihat tumpul dan tanpa daya.
Gol pertama Inter lahir dari situasi yang seharusnya bisa dihindari. Bek kiri Lazio, Nuno Tavares, melakukan kesalahan fatal saat membuang bola di area pertahanannya sendiri. Ia kehilangan penguasaan bola setelah ditekan oleh Denzel Dumfries, yang kemudian dengan tenang memberikan umpan matang kepada Lautaro Martinez.
Martinez yang diberi rating 7 oleh jurnalis di Roma, dengan dingin menceploskan bola ke gawang Lazio yang dikawal Motta. Gol kedua, yang dikreditkan sebagai gol bunuh diri bek Lazio, Adam Marusic, memanfaatkan sepak pojok Federico Dimarco. Dua gol dalam rentang waktu 35 menit itu praktis membunuh pertandingan.
Di kubu Lazio, hanya Nicolo Rovella yang mendapat nilai di atas rata-rata (6,5). Masuk di babak kedua menggantikan Patric, gelandang Italia itu langsung mengubah ritme permainan. Ia menjadi jembatan yang hilang antara lini tengah dan depan, memungkinkan Lazio menguasai bola lebih lama di area pertahanan Inter.
Namun, kualitas lini depan Lazio yang minim menjadi batu sandungan. Sarri, yang terkenal dengan filosofi sepak bola menyerangnya, tidak memiliki materi pemain yang cukup untuk membongkar pertahanan solid Inter. "Sarri tidak bisa berbuat lebih banyak," tulis laporan dari Roma, mengindikasikan keterbatasan skuad yang ia miliki.
Di sisi lain, kemenangan ini menjadi puncak dari musim debut yang impresif bagi Cristian Chivu. Pelatih asal Rumania itu berhasil membawa Inter meraih dua trofi sekaligus: Scudetto dan Coppa Italia. Keberaniannya dalam meracik taktik dan memaksimalkan potensi pemain seperti Dumfries, Dimarco, dan Lautaro Martinez menjadi kunci dominasi Nerazzurri.
Inter tampil efisien. Mereka tidak perlu mendominasi penguasaan bola secara mutlak, namun setiap serangan terukur dan berbahaya. Kombinasi antara Dumfries (rating 7) di sayap kanan dan Dimarco (rating 7) di sayap kiri menjadi momok yang tidak mampu dihentikan pertahanan Lazio.
Bagi Lazio: Kekalahan ini memupuskan harapan mereka untuk lolos ke kompetisi Eropa musim depan melalui jalur Coppa Italia. Mereka harus bergantung pada posisi akhir di klasemen Serie A yang masih belum aman. Kegagalan di final juga menambah daftar panjang kekecewaan di musim yang penuh inkonsistensi.
Bagi Inter: Gelar ganda domestik ini menjadi pernyataan kekuatan. Mereka membuktikan bahwa kedalaman skuad dan mentalitas juara masih menjadi milik mereka. Musim depan, target utama Nerazzurri jelas akan kembali ke pentas Liga Champions dengan ambisi yang lebih besar.