Roda mobil saya berhenti tepat di tepian Rungan. Februari 2026, udara Palangkaraya terasa lembap tapi segar—perpaduan khas kota yang dikelilingi hutan dan sungai. Selama tiga hari menjelajah, saya mendapati wajah baru pariwisata Kalteng yang tidak cuma soal monumen kayu gajah.
Dari destinasi alam yang masih sepi pengunjung hingga ruang publik yang baru diresmikan, delapan tempat ini saya sortir berdasarkan pengalaman langsung. Bukan daftar klise. Semua sudah saya cek sendiri, termasuk ongkos ojek online dari pusat kota.
Lokasinya di Jalan Mahir Mahar, tepat di belakang Kantor Wali Kota. Taman ini resmi dibuka akhir 2025 dan langsung jadi favorit keluarga. Tiket masuk Rp5.000 per orang.
Saya datang Sabtu pagi, anak-anak sudah ramai di area sains interaktif. Ada perpustakaan digital dan zona eksperimen fisika sederhana. Cocok untuk wisata edukasi sambil nunggu jam buka museum.
Berjarak sekitar 12 kilometer dari Bundaran Besar, arah Jalan Tjilik Riwut km 12. Danau ini bekas galian tambang yang direklamasi. Airnya hijau toska, kontras dengan tanah gambit merah di sekitarnya.
Biaya parkir Rp3.000 untuk motor, Rp5.000 mobil. Tidak ada tiket masuk resmi. Saya sarankan datang sore—cahaya matahari jatuh tepat di permukaan danau, bikin foto tanpa filter tetap bagus. Warung kopi sudah mulai banyak berdiri di pinggir danau.
Taman kota terbaru di Jalan Ahmad Yani, persis di depan Kantor DPRD Kalteng. Diresmikan Desember 2025. Konsepnya taman tematik dengan lampu hias LED dan jalur jogging beton.
Gratis. Buka 24 jam tapi paling ramai jam 16.00-21.00. Saya lihat banyak anak muda nongkrong pakai tikar, bawa gitar. Keamanan cukup ketat—ada pos satpam di setiap sudut.
Berada di komplek perkantoran Pemkot, Jalan Tjilik Riwut km 2. Hutan kota ini sudah ada sejak 2017, tapi jalur trackingnya baru diperbaiki tahun lalu. Luasnya sekitar 10 hektar.
Pintu masuk gratis. Saya tracking sejauh 2 kilometer, medannya landai, banyak pohon ulin dan meranti. Cocok untuk lari pagi atau jalan santai. Bawa air minum sendiri karena tidak ada penjual di dalam.
Bukan tempat baru, tapi pameran temporernya berganti tiap tiga bulan. Saat saya kunjungi, ada pameran "Ritual Dayak Kalimantan" yang menampilkan peralatan upacara asli dari tahun 1800-an. Tiket Rp5.000 dewasa, Rp2.000 anak.
Buka Selasa-Minggu jam 08.00-16.00. Senin tutup. Letaknya di Jalan Tjilik Riwut km 2, satu komplek dengan Hutan Kota. Saya habiskan waktu satu jam di sini—cukup untuk melihat koleksi senjata mandau dan anyaman rotan.
Taman tepi sungai di Jalan Diponegoro, dekat Pasar Besar. Namanya diambil dari bahasa Dayak Ngaju: "pasuk" artinya kumpul, "kameloh" artinya bersih. Diresmikan Gubernur Kalteng Agustus 2025.
Taman ini punya amphitheater kecil dan dermaga perahu. Gratis. Saya duduk di bangku beton sambil lihat kapal kelotok lewat. Cocok untuk sore santai sambil jajan es campur di pedagang sekitar.
Berlokasi di Jalan Gajah Mada, dekat simpang empat. Taman ini sempat mangkura tahun lalu, kini diperbaiki dengan konsep ramah anak. Ada ayunan, perosotan, dan area rumput sintetis.
Gratis. Buka 24 jam. Saya lihat banyak ibu-ibu bawa anak main sepulang sekolah. Toilet umum tersedia, kondisi lumayan bersih. Parkir motor Rp2.000, mobil Rp5.000.
Bukan wisata alam, tapi pasar tradisional ini punya daya tarik sendiri. Letaknya di Jalan Ahmad Yani, dekat Jembatan Kahayan. Pasar ini baru selesai renovasi tahap pertama Januari 2026.
Saya beli amplang (kerupuk ikan) Rp25.000 per kilogram, dan wadai (kue basah) khas Dayak Rp3.000 per biji. Pasar buka dari jam 05.00 pagi sampai 17.00. Paling ramai jam 06.00-09.00. Bawa uang tunai, banyak pedagang belum terima QRIS.
Berapa biaya transportasi di Palangkaraya?
Ojek online dari pusat kota ke Danau Hanjalutung sekitar Rp25.000-Rp35.000. Sewa mobil lepas kunci mulai Rp300.000 per hari.
Kapan waktu terbaik berkunjung?
April-September. Musim kemarau, jalanan tidak becek, dan air sungai surut—akses ke destinasi tepi air lebih mudah.
Apa oleh-oleh khas yang wajib dibeli?
Amplang ikan gabus, keripik talas, dan madu hutan. Semua ada di Pasar Kahayan dengan harga lebih miring dibanding toko oleh-oleh.
Apakah semua tempat ini ramah untuk lansia?
Empat destinasi—Taman Pintar, Taman K3, Museum Balanga, dan Pasar Kahayan—memiliki akses kursi roda. Danau Hanjalutung dan Hutan Kota tidak disarankan.
Ada destinasi gratis selain taman?
Museum Balanga berbayar, sisanya gratis. Taman K3, Taman Pasuk Kameloh, dan Taman Gajah tidak memungut biaya masuk.
Palangkaraya tidak perlu dipaksakan sebagai destinasi wisata massal. Kota ini punya ritme sendiri—lambat, hijau, dan jujur. Delapan tempat di atas cukup untuk mengisi dua hari tanpa terburu-buru. Sisakan waktu untuk duduk di tepi Rungan, ngopi, dan mendengar suara burung. Itu wisata paling otentik yang tidak tercantum di brosur mana pun.