SAMPIT — Upacara peringatan detik-detik proklamasi di Kotawaringin Timur berlangsung khidmat di Stadion 29 Nopember. Bupati Halikinnor yang bertindak sebagai inspektur upacara menyampaikan pesan yang tegas: kemerdekaan harus dirawat dengan aksi nyata di lapangan, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Halikinnor, tantangan yang dihadapi generasi sekarang jauh berbeda dengan masa para pejuang. Jika dulu melawan penjajah dengan senjata, kini tantangan itu menjelma dalam bentuk kesenjangan ekonomi, kualitas pendidikan, dan akses layanan kesehatan.
“Perjuangan kita hari ini bukan lagi mengangkat senjata, tetapi mengisi kemerdekaan dengan kerja nyata. Membangun, memberikan pelayanan terbaik, menjaga persatuan, melindungi lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya dalam amanat upacara.
Keamanan Daerah Jadi Fondasi Pembangunan
Halikinnor tidak menampik bahwa pembangunan hanya bisa berjalan mulus di tengah situasi yang aman dan kondusif. Karena itu, ia memberikan apresiasi khusus kepada jajaran TNI, Polri, pemerintah kecamatan, hingga pemerintah desa yang selama ini aktif menjaga ketertiban di wilayah Kotim.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpecah belah oleh informasi yang beredar. Menurutnya, persoalan sekecil apapun sebaiknya diselesaikan lewat musyawarah, bukan dengan konflik yang justru merugikan semua pihak.
“Mari kita cegah konflik, selesaikan persoalan dengan musyawarah, dan jangan mudah terprovokasi oleh informasi yang dapat memecah persatuan,” katanya.
Pekerjaan Rumah Besar: Infrastruktur hingga Karhutla
Di balik euforia perayaan kemerdekaan, bupati dua periode itu mengakui masih ada segudang pekerjaan rumah yang menanti. Ia menyebutkan sejumlah sektor prioritas yang harus terus digenjot, mulai dari perbaikan jalan, peningkatan mutu pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga penguatan ekonomi warga di pedesaan.
“Kita ingin masyarakat merasakan perubahan yang nyata. Jalan yang lebih baik, pelayanan publik yang mudah dan cepat, pendidikan yang berkualitas, pelayanan kesehatan yang memadai, dan kesejahteraan yang semakin baik,” tegasnya.
Salah satu isu yang menjadi perhatian khusus adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap melanda Kotim pada musim kemarau. Halikinnor menegaskan penanganan karhutla tidak bisa dibebankan kepada pemerintah semata, melainkan butuh keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.
Habaring Hurung: Modal Sosial Menghadapi Tantangan
Dalam kesempatan itu, bupati kembali mengangkat nilai kearifan lokal Habaring Hurung sebagai modal sosial dalam menghadapi berbagai persoalan daerah. Ia menilai semangat gotong royong yang diwariskan nenek moyang ini relevan untuk menjawab tantangan zaman, termasuk dalam pencegahan karhutla dan percepatan pembangunan.
“Habaring Hurung bukan sekadar ungkapan. Habaring Hurung adalah jati diri kita, dan merupakan pesan yang dititipkan nenek moyang kita agar terus semangat untuk saling membantu, saling menguatkan, dan bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang lebih besar,” tuturnya.
Menutup pidatonya, Halikinnor mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan momen HUT ke-81 RI sebagai penguat tekad membangun Kotim. Ia menekankan bahwa perbedaan suku, agama, dan budaya bukanlah penghalang selama semua pihak memiliki tujuan yang sama.
“Kita boleh berbeda suku, agama, budaya, dan latar belakang. Tetapi kita memiliki rumah yang sama yaitu Kotawaringin Timur,” pungkasnya.