KALIMANTAN TENGAH — Kunjungan kenegaraan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier ke Indonesia tidak hanya diisi agenda politik di Istana Kepresidenan. Setelah bertemu Presiden Prabowo Subianto, Steinmeier dan Ibu Negara Elke Büdenbender langsung menuju kawasan Monas untuk melihat langsung harmoni dua rumah ibadah besar yang berdiri berdampingan.
Perpaduan Beduk dan Lonceng di Bawah Tanah
Menteri Agama Nasaruddin Umar yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal mendampingi langsung kunjungan tersebut. Menurut Nasaruddin, momen paling berkesan bagi Steinmeier adalah saat berada di Terowongan Silaturahmi.
"Di tengah-tengah ada kombinasi suara lonceng dan suara bedug. Ditambah ornamen-ornamen silaturahmi yang sangat indah. Itu yang membuat mereka sangat terkesan," kata Nasaruddin di Jakarta, Senin (15/6).
Steinmeier dan istri berjalan kaki dari halaman Istiqlal menuju Katedral. Mereka juga sempat mencoba memukul bedug, tradisi khas Islam Indonesia, sebelum memasuki terowongan.
Pesan Bung Karno di Balik Berdirinya Istiqlal
Kardinal Ignatius Suharyo turut mendampingi rombongan dan menjelaskan sejarah panjang relasi kedua tempat ibadah. Ia mengungkapkan, lokasi Masjid Istiqlal bukanlah pilihan tanpa perdebatan.
"Ketika menentukan lokasi Masjid Negara, Wakil Presiden Mohammad Hatta sempat mengusulkan tempat lain. Namun Presiden pertama RI Soekarno memilih kawasan ini dengan dua pesan penting," ujar Suharyo.
Dua pesan itu, kata Suharyo, adalah menghapus simbol kolonial Belanda yang sebelumnya berdiri di lokasi tersebut dan menghadirkan lambang kehidupan berdampingan dalam keberagaman. "Relasi antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral terus dibangun sebagai lambang bahwa kita hidup berdampingan sebagai warga negara Indonesia," tuturnya.
Wajah Indonesia yang Langka di Mata Dunia
Nasaruddin menilai kekaguman Steinmeier bukan tanpa alasan. Kawasan Istiqlal-Katedral kerap menjadi destinasi utama bagi kepala negara dan tamu penting yang berkunjung ke Indonesia.
"Mereka sangat puas menyaksikan sebuah pemandangan yang sulit ditemukan di belahan dunia lain. Itulah kesan yang kami tangkap dari kunjungan tadi," kata Nasaruddin.
Menurutnya, Steinmeier dan istrinya menunjukkan ketertarikan besar terhadap harmoni yang terbangun. "Setelah dari Istana tadi langsung berkunjung ke Istiqlal, kemudian menelusuri Terowongan Silaturahmi hingga masuk ke Katedral. Mereka sangat terharu melihat sebuah kota yang sangat ideal, ada dua rumah ibadah yang sangat bersahabat," ucapnya.
Simbol Diplomasi Lunak Indonesia
Kunjungan ini mempertegas posisi kawasan Istiqlal-Katedral sebagai aset diplomasi lunak (soft diplomacy) Indonesia. Di tengah meningkatnya ketegangan berbasis identitas di berbagai negara, Indonesia justru menunjukkan contoh nyata toleransi yang telah berakar sejak kemerdekaan.
Terowongan Silaturahmi sepanjang puluhan meter itu sendiri diresmikan sebagai simbol konektivitas fisik dan spiritual. Suara bedug dari Istiqlal dan lonceng dari Katedral yang terdengar bersamaan di dalam terowongan menjadi metafora yang sulit ditiru oleh negara lain.