SAMPIT — Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menegaskan penanganan pascakebakaran SMAN 1 Cempaga tidak boleh berlarut-larut. Tiga fasilitas utama yang terdampak kebakaran memerlukan pembangunan kembali, yakni ruang kelas, aula, dan kantor sekolah.
Kepastian itu disampaikan Agustiar saat meninjau lokasi kebakaran bersama Kepala Dinas Pendidikan Kalteng Reza Prabowo. Pemerintah provinsi menargetkan pembangunan fasilitas yang rusak direalisasikan pada 2026.
Agustiar menilai situasi pascakebakaran memerlukan keputusan cepat. Menurutnya, percepatan harus dilakukan agar siswa tidak terlalu lama terdampak akibat keterbatasan sarana pendidikan.
"Kalau kondisi seperti ini dibiarkan menunggu terlalu lama, tentu akan mengganggu kegiatan belajar. Karena itu kita harus bergerak cepat," tegasnya.
Pemerintah daerah memang baru dapat melakukan peninjauan setelah beberapa hari pascakejadian. Agustiar menyatakan keterlambatan itu tidak mengurangi komitmen untuk segera mengambil langkah penanganan.
"Kami memang baru bisa datang sekarang, tetapi ini tetap menjadi tanggung jawab kami untuk segera menindaklanjuti," ujarnya.
Jumlah peserta didik di SMAN 1 Cempaga mencapai sekitar 270 orang. Dengan kondisi bangunan yang ada saat ini, ruang belajar dinilai tidak lagi mencukupi untuk menunjang kegiatan pendidikan secara optimal.
"Jumlah siswanya cukup banyak, sekitar 270 orang. Setelah kami lihat dan hitung kebutuhan ruang yang tersedia, memang perlu segera dilakukan pembangunan tambahan agar proses belajar tetap berjalan dengan baik," katanya.
Kebutuhan pembangunan menjadi prioritas mengingat jumlah siswa yang harus dilayani. Ruang kelas, aula, dan kantor sekolah menjadi tiga fasilitas yang paling memerlukan perhatian.
Mekanisme dan teknis pembangunan nantinya akan ditangani oleh instansi terkait. Fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan kebutuhan sekolah yang terdampak kebakaran segera mendapatkan solusi.
Dinas Pendidikan Kalteng bersama Pemprov Kalteng akan mengatur pelaksanaan pembangunan agar aktivitas pendidikan dapat kembali berjalan normal. Proses penganggaran dan teknis lapangan menjadi kewenangan instansi yang menangani.
Agustiar berharap murid-murid SMAN 1 Cempaga bisa belajar seperti biasa dengan lebih semangat setelah fasilitas sekolah dibangun kembali.