KALIMANTAN TENGAH — Skotlandia akhirnya mengakhiri penantian 28 tahun untuk tampil di Piala Dunia. Namun, perjalanan mereka di turnamen ini baru akan benar-benar diuji saat berhadapan dengan Maroko, tim peringkat keenam dunia. Di pundak McTominay, harapan untuk membuat kejutan kembali bertumpu.
McTominay meninggalkan Manchester United dengan rasa sakit hati. Dua musim lalu, ia dianggap sebagai pemain pinggiran. Kini, setelah membawa Napoli meraih Scudetto dan dinobatkan sebagai pemain terbaik Serie A 2025, statusnya berubah total. Jika ia memutuskan hengkang dari Naples, klub-klub Premier League sudah mengantre.
Namun, kontribusinya untuk Skotlandia tak kalah ikonik. Tendangan saltonya ke gawang Denmark pada November lalu—saat Skotlandia menang 4-2 meski sempat kalah jumlah pemain—kini diabadikan dalam mural di dekat Hampden Park. Sebuah penghormatan yang bahkan tidak diberikan kepada legenda seperti Kenny Dalglish atau Denis Law.
Pelatih Steve Clarke enggan mengakui McTominay sebagai pemain spesial. “Saya punya banyak pemain kunci: Andy Robertson, John McGinn, Grant Hanley,” ujar Clarke. “Scott paham tanpa bantuan rekan setim, sulit jadi talisman.”
Namun, fakta berbicara lain. Dalam 71 penampilan, McTominay mencetak 15 gol—catatan impresif untuk seorang gelandang. Masalahnya, performa Skotlandia sering timpang. Mereka kalah di Athena, nyaris tersandung melawan Belarus, dan hanya menang 3-1 atas Haiti dalam laga pemanasan yang buruk. McTominay sendiri tampil flat di laga itu, meski sempat membentur tiang.
Clarke mengakui Haiti berhasil mematikan pergerakan McTominay dengan pressing ketat. “Kadang kamu tidak bisa menunjukkan kualitas karena lawan bermain bagus,” katanya. Melawan Maroko, situasinya berbeda. Tim asuhan Walid Regragui lebih suka menguasai bola, memberi celah bagi McTominay untuk menusuk dari lini kedua.
Jika Clarke kembali memainkan satu penyerang tunggal, beban mencetak gol akan jatuh ke gelandang. McTominay, yang kini dalam kondisi fit setelah gangguan perut, harus tampil efisien. Peluang emas tidak akan datang dua kali.
Ini mungkin Piala Dunia terakhir bagi inti skuad Skotlandia. John McGinn (31), Andy Robertson (32), dan Ché Adams (29) berada di puncak karier. Minimnya talenta muda menjadikan turnamen ini sebagai momentum sekali seumur hidup. McTominay, yang lahir di Inggris namun membela Skotlandia, menjadi simbol perlawanan itu.
“Scott adalah pembeda kami,” kata Clarke. “Sekarang waktunya dia membuktikannya lagi.”