Kabar ini pertama kali mencuat setelah trailer perdana Crazy Taxi: World Tour ditayangkan dalam ajang Xbox showcase. Gim ini akan hadir di Nintendo Switch 2, PlayStation 5, Windows PC, dan Xbox Series X. Trailernya memperlihatkan aksi balap liar khas seri ini—sopir legendaris Axel kembali mengemudi di kota bergaya San Francisco yang terang benderang.
Tapi Sega tidak hanya menjual nostalgia. Dalam deskripsi gim di halaman Steam, perusahaan itu secara gamblang menyebutkan bahwa generative AI digunakan sebagai alat bantu selama proses pengembangan.
"Di SEGA Corporation, kami memanfaatkan generative AI sebagai alat dukungan bagi pengembang, bertujuan memberikan konten yang lebih baik kepada pengguna dan memungkinkan pengembang untuk lebih fokus pada tugas-tugas kreatif," demikian pernyataan Sega. Perusahaan menegaskan tidak ada AI yang digunakan terkait dengan para pengisi suara atau pemeran dalam gim.
Pernyataan itu mungkin terdengar hati-hati, tetapi cukup untuk membelah opini. Sebagian pelaku industri melihat AI sebagai efisiensi yang tak terhindarkan. Sebagian lain menganggapnya sebagai ancaman terhadap orisinalitas karya dan mata pencaharian kreator manusia.
Terlepas dari kontroversi, Crazy Taxi: World Tour sendiri menjanjikan perluasan formula yang sudah mapan. Selain misi klasik menjemput dan mengantar penumpang melawan waktu, trailer memperlihatkan aktivitas sampingan seperti mini-game memancing dan tantangan aneh—mengemudi sambil menjaga pizza agar tidak tergelincir dari atap mobil yang terbuka.
Ini adalah langkah berani Sega. Sejak 2023, perusahaan telah mengumumkan rencana menghidupkan kembali sejumlah waralaba lawas seperti Jet Set Radio, Golden Axe, Shinobi, dan Streets of Rage. Namun, tidak semua proyek berjalan mulus. Salah satu inisiatif "super-game" skala besar dikabarkan dibatalkan secara internal.
Respon komunitas gamer terhadap penggunaan AI di Crazy Taxi: World Tour sejauh ini didominasi sikap skeptis. Kekhawatiran tidak hanya soal kualitas estetika, tetapi juga dampak lingkungan dari komputasi skala besar dan fakta bahwa banyak model AI dilatih menggunakan karya seniman tanpa izin.
Sega memang menutup celah soal hak performa aktor. Namun, pernyataan itu tidak menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: sejauh mana AI benar-benar membentuk produk akhir? Tanpa transparansi lebih lanjut, kecurigaan publik sulit dihilangkan.
Dengan rilis yang masih tiga tahun lagi, Crazy Taxi: World Tour menjadi ujian bagi Sega. Bisakah perusahaan ini memadukan warisan masa lalu dengan teknologi kontroversial tanpa kehilangan hati penggemar lamanya? Jawabannya baru akan terlihat pada 2027.