3 Dampak Krisis BBM di Kotim: Produktivitas Lumbung Pangan Terancam, Petani Keluhkan Pasokan Langka

Penulis: Kurniadi Setiawan  •  Rabu, 03 Juni 2026 | 14:31:01 WIB
Petani di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan mengeluhkan kelangkaan solar yang menghambat operasional mesin pertanian.

SAMPIT — Krisis pasokan BBM di kawasan selatan Kotawaringin Timur memicu kekhawatiran meluas di kalangan petani. Solar yang menjadi bahan bakar utama mesin pertanian, seperti pompa air dan traktor, mulai langka di sejumlah agen dan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan sekitarnya.

Para petani mengaku harus mengantre berjam-jam atau membeli solar dari pengecer dengan harga jauh di atas harga eceran tertinggi (HET). Jika kondisi ini berlanjut, masa tanam padi dan palawija di lahan rawa dan tadah hujan dipastikan terganggu.

Pasokan Solar Tersendat, Pompa Irigasi Berhenti Beroperasi

Ketua kelompok tani di Desa Samuda Besar, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, mengungkapkan bahwa mesin pompa air milik petani sudah tidak bisa dioperasikan secara optimal sejak sepekan terakhir. "Kami butuh solar setiap hari untuk menyedot air dari sungai ke sawah. Sekarang stok kosong, pompa mati, sawah mulai kering," ujarnya.

Kelangkaan ini diperparah dengan terbatasnya kuota BBM bersubsidi yang dialokasikan untuk sektor pertanian di tingkat kecamatan. Padahal, wilayah selatan Kotim merupakan salah satu sentra produksi beras di Kalimantan Tengah dengan ribuan hektare lahan sawah.

Fakta Singkat Krisis BBM di Kotim

  • Lokasi terdampak: Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan sekitarnya di Kabupaten Kotawaringin Timur.
  • Dampak utama: Mesin pompa irigasi dan alat pertanian tidak bisa beroperasi karena kekurangan solar.
  • Ancaman: Gagal tanam dan penurunan produksi pangan di tengah program ketahanan pangan nasional.

Ironi di Tengah Target Produksi Pangan Nasional

Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian menargetkan peningkatan produksi beras nasional pada tahun ini. Namun, di tingkat lapangan, petani di Kotim justru menghadapi kendala distribusi energi yang krusial. "Kami heran, program tanam paksa dicanangkan, tapi solar untuk mesin pertanian malah sulit," keluh seorang petani di Kecamatan Pulau Hanaut.

Para petani berharap pemerintah daerah segera berkoordinasi dengan Pertamina dan dinas terkait untuk menambah kuota BBM bersubsidi. Mereka juga meminta agar pendistribusian solar diprioritaskan ke kawasan lumbung pangan selama musim tanam berlangsung.

Apa Langkah Pemkab Kotim Selanjutnya?

Hingga berita ini diturunkan, Dinas Pertanian dan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kotawaringin Timur belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kelangkaan BBM di wilayah selatan. Namun, sejumlah anggota DPRD Kotim mulai mendesak agar pemkab segera membahas persoalan ini dalam rapat koordinasi lintas sektor.

Jika tidak segera diatasi, krisis BBM ini berpotensi menurunkan produksi gabah kering panen (GKP) hingga puluhan ton dalam satu musim tanam. Wilayah selatan Kotim yang selama ini menjadi penyangga pangan bagi Kota Sampit dan sekitarnya terancam kehilangan momentum panen raya.

Reporter: Kurniadi Setiawan
Sumber: radarsampit.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top