Fenomena Boti di Kalangan Remaja Sampit Kian Terbuka, Sekolah dan Orang Tua Diminta Ambil Peran

Penulis: Oki Setiawan  •  Kamis, 28 Mei 2026 | 12:45:36 WIB
Remaja di Sampit semakin terbuka menampilkan identitas gender boti di lingkungan sekolah dan media sosial.

SAMPIT — Fenomena laki-laki yang berperilaku dan berdandan menyerupai perempuan, yang dikenal dengan istilah “boti”, kini semakin tampak terbuka di lingkungan remaja dan sekolah di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. Kondisi ini dinilai bukan lagi persoalan kecil yang bisa diabaikan, mengingat para pelaku mayoritas masih berusia sekolah dan rentan terhadap tekanan sosial serta perundungan.

Muncul di Lingkungan Sekolah dan Media Sosial

Sejumlah warga dan pegiat sosial di Sampit melaporkan bahwa perilaku boti tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Beberapa remaja laki-laki terlihat menggunakan pakaian, tata rias, hingga aksesori yang lazim dipakai perempuan saat berada di luar rumah, termasuk di area sekolah dan pusat perbelanjaan.

Fenomena ini juga merebak di platform media sosial seperti TikTok dan Instagram, tempat para remaja tersebut saling mengunggah konten yang memperkuat identitas gender yang mereka tampilkan. “Ini bukan sekadar tren fashion. Ini soal identitas yang mereka bangun dan pertahankan di depan publik,” ujar seorang pegiat perlindungan anak di Sampit, pekan lalu.

Bukan Lagi Persoalan Kecil, Butuh Pendekatan Serius

Para pengamat sosial menyebut kemunculan fenomena boti secara terbuka merupakan sinyal bahwa pemahaman tentang identitas gender di kalangan remaja mulai bergeser. Namun, mereka mengingatkan bahwa tanpa pendampingan yang tepat, remaja yang terlibat berisiko mengalami diskriminasi, perundungan, hingga tekanan psikologis dari lingkungan sekitar.

Orang tua dan pihak sekolah diharapkan tidak serta-merta menghakimi atau melarang secara frontal. “Pendekatan yang represif justru bisa mendorong anak semakin tertutup dan mencari pegangan dari kelompok yang tidak tepat,” tambah pegiat tersebut.

Apa Langkah Orang Tua dan Sekolah Selanjutnya?

Hingga berita ini diturunkan, Dinas Pendidikan Kotawaringin Timur belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait fenomena boti di kalangan pelajar. Namun, sejumlah sekolah di Sampit mulai mengadakan pertemuan dengan komite orang tua untuk membahas pendekatan bimbingan konseling yang lebih inklusif dan berbasis psikologi anak.

Pemerhati pendidikan mendorong agar Pemkab Kotim segera menyusun panduan penanganan bagi guru dan orang tua, bukan hanya sebagai respons terhadap fenomena boti, tetapi juga sebagai langkah preventif terhadap masalah identitas dan kesehatan mental remaja secara umum.

Fakta Singkat:

  • Fenomena boti kian terbuka di lingkungan remaja dan sekolah di Sampit.
  • Pelaku mayoritas pelajar yang aktif di media sosial seperti TikTok dan Instagram.
  • Pegiat sosial dan orang tua mendorong pendekatan psikologis, bukan represif.
  • Dinas Pendidikan Kotim belum mengeluarkan kebijakan resmi terkait hal ini.
Reporter: Oki Setiawan
Sumber: radarsampit.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top