PALANGKA RAYA — Distribusi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax untuk wilayah Kota Palangka Raya dan empat kabupaten lainnya di Kalimantan Tengah kini ditingkatkan menjadi 200 kiloliter (KL) per hari. Langkah ini diambil sebagai respons atas lonjakan antrean kendaraan yang terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar dalam tiga hari terakhir.
Anggota DPR RI Sigit K Yunianto menyatakan bahwa penambahan pasokan ini merupakan hasil koordinasi cepat dengan Pertamina Patra Niaga. Penambahan distribusi tersebut diharapkan mampu menormalkan kembali situasi di lapangan dan memberikan kepastian stok kepada masyarakat.
Dari total tambahan 200 KL Pertamax per hari tersebut, porsi terbesar dialokasikan untuk wilayah ibu kota provinsi. Tingginya aktivitas kendaraan di Palangka Raya membuat kota ini mendapatkan jatah sekitar 60 persen dari total pasokan baru.
“Untuk Pertamax saat ini dikirim sebanyak 200 kiloliter (KL) per hari,” ujar Sigit kepada awak media pada Jumat (8/5/2026).
Selain Palangka Raya, tambahan distribusi ini juga mencakup wilayah Kabupaten Gunung Mas, Kapuas, Pulang Pisau, dan Barito Selatan. Pemerintah memantau ketat pergerakan stok di lima wilayah tersebut untuk mencegah terjadinya kekosongan di tingkat pengecer atau SPBU.
Meski terdapat lonjakan permintaan pada jenis Pertamax, Sigit menegaskan bahwa stok BBM bersubsidi jenis Pertalite masih berada dalam level mencukupi. Berdasarkan data koordinasi, kebutuhan Pertalite untuk wilayah Palangka Raya dan sekitarnya mencapai 427 KL per hari.
“Untuk Pertalite di wilayah Palangka Raya, Gunung Mas, Pulang Pisau, Kapuas, dan Barito Selatan masih aman dengan kebutuhan sekitar 427 KL per hari,” katanya menambahkan.
Guna memperkuat ketahanan stok, distribusi dari depo Pulang Pisau kini mendapatkan dukungan suplai tambahan dari depo di Kalimantan Selatan. Legislator dari Daerah Pemilihan Kalimantan Tengah ini meminta masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan (panic buying).
Pemerintah dan Pertamina terus berupaya mengurai antrean yang terjadi akibat lonjakan kebutuhan yang signifikan dalam beberapa hari terakhir. Masyarakat diharapkan bersabar selama proses normalisasi distribusi berlangsung di seluruh titik SPBU terdampak.