PALANGKA RAYA — Data harian BPB-PK Kalteng per Selasa, 22 September 2026 pukul 18.00 WIB dihimpun dari pemantauan titik panas BRIN dan Sipongi, ditambah laporan kejadian serta luas area terbakar dari kabupaten/kota kepada Pusdalops provinsi. Selain Pulang Pisau, sejumlah daerah lain juga mencatat hotspot tinggi: Kotawaringin Timur 1.292 titik, Seruyan 1.288 titik, Kotawaringin Barat 869 titik, Kapuas 764 titik, dan Katingan 460 titik.
Kotawaringin Timur dan Kapuas Jadi Wilayah dengan Kejadian Terbanyak
Dari sisi kejadian, Kotawaringin Timur mencatat 18 kejadian dengan luas area terbakar 12,78 hektare. Kapuas menyusul dengan 13 kejadian dan luas 31,25 hektare, disusul Murung Raya 11 kejadian (10,32 hektare) serta Seruyan 11 kejadian (31,71 hektare).
Sebaran kejadian itu membuat BPB-PK Kalteng meningkatkan kesiapsiagaan, terutama lewat penguatan koordinasi, pemantauan titik panas, patroli, dan penanganan langsung di lapangan.
Lahan Gambut Jadi Tantangan: Api Bisa Menjalar di Bawah Permukaan
Kalaksa BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib, menyatakan penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman saat api muncul, tetapi juga pada upaya pencegahan dan pembasahan. "Kami terus memperkuat penanganan di lapangan dengan mengoptimalkan personel, sarana dan prasarana yang tersedia. Pemantauan titik panas dan kondisi wilayah dilakukan secara berkelanjutan, sehingga setiap potensi karhutla dapat segera ditindaklanjuti," ujar Ahmad Toyib.
Ia menegaskan kondisi lahan gambut menjadi salah satu tantangan karena api dapat menjalar di bawah permukaan dan kembali muncul apabila proses pembasahan tidak dilakukan secara optimal.
Kecepatan Informasi dan Respons Jadi Kunci Penanganan
Menurut Ahmad Toyib, penanganan harus berjalan berkelanjutan dengan melibatkan pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, masyarakat, dan unsur penanggulangan bencana lainnya. "Kunci penanganan karhutla adalah kecepatan informasi, kecepatan respons dan kesinambungan penanganan. Ketika ada indikasi titik api, kita harus segera bergerak agar tidak berkembang dan meluas," katanya.
Selain pemadaman dan patroli, pembasahan kawasan berpotensi terbakar kembali menjadi bagian penting untuk menekan munculnya api baru, terutama di wilayah bergambut.
Warga Diminta Ikut Melapor jika Menemukan Potensi Kebakaran
Ahmad Toyib mengingatkan keterlibatan masyarakat dalam mencegah karhutla tidak bisa digantikan pemerintah dan petugas lapangan. "Pencegahan harus menjadi tanggung jawab bersama. Masyarakat kami harapkan ikut menjaga lingkungan, melaporkan apabila menemukan potensi kebakaran, dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu terjadinya karhutla," tuturnya.
BPB-PK Kalteng memastikan pemantauan dan penanganan terus dilakukan dengan mengedepankan koordinasi lintas sektor. Upaya itu diharapkan menekan perkembangan karhutla sekaligus menjaga kualitas udara dan kondisi lingkungan di Kalimantan Tengah.